Hari ini saya dan suami saya pergi ke Stasiun Bogor untuk mengambil kiriman motor dari Jogja. Kami berangkat kesana menggunakan angkutan kota (angkot).
Kali ini saya benar-benar dibuat kesal oleh angkot jurusan Leuwiliang-Bogor tersebut. Sepanjang jalan saya hanya menggerutu dan marah-marah tidak jelas.
Pertama, saya akan deskripsikan dulu tentang keadaan si angkot tersebut. Jika angkot itu diibaratkan benda milik saya, benda itu sudah saya letakkan di tempat sampah lalu saya bakar. Bukannya saya menghina, saya hanya mempertanyakan tanggung jawab sang pemilik. Angkot ini keadaannya sudah sangat mengenaskan. Tempat duduknya sobek-sobek, besinya berkarat, dan dashbornya sudah hilang entah kemana. Oya, satu lagi, jika kita duduk di depan bersama sang supir, kita HARUS menutup pintunya sak kayange alias sekuat tenaga kita.
Kedua, saya deskripsikan tentang supirnya. Sang pemilik angkot tersebut tidak kalah anehnya dengan angkotnya. Begini penampilan fisiknya, lagi-lagi tidak bermaksud menghina. Tubuhnya sintal, kulit sawo matang hampir busuk, rambut cepak keriting, dan bibirnya tebal sekali alias dower. Saya tidak mempermasalahkan penampilan fisiknya, itu anugerah Tuhan. Yang aneh adalah perilakunya. Dia itu tidak bisa senyum, mulut selalu menganga, mata jelalatan kemana-mana (ciri khas supir angkot), mengendarai mobil seenak udelnya sendiri, dan dari mulutnya selalu keluar umpatan.
![]() |
| Sang Supir dan Angkotnya |
Huh, si supir angkot dengan nopol F 1938 *L ini sukses membuat hari saya berantakan karena kesal setengah hidup. Buat pak supir, saya doakan agar selalu sehat, selamat, dan laris manis. Amin.
"Danger and safety never take a holiday"






0 comments:
Post a Comment