Saturday, November 12, 2011

Apa Jadinya Kalau Tidak Ada Nenek?

Saya mempunyai seorang tetangga yang sangat berkesan buat saya. Umurnya sekitar 40 menjelang 50, mempunyai dua orang anak, yang nomer satu sudah menikah dan tinggal di Cikotok, dan sang adik sedang menyelesaikan pendidikan D3 kebidanan di sebuah universitas di Bogor. Kedua anaknya adalah wanita.

Kami, para tetangganya, memanggil ibu ini dengan sebutan nenek. Nama aslinya Bu Adang. Wajahnya masih belum terlalu dihiasi banyak kerut sih, tapi karena anak-anak di sekitar rumah memanggilnya nenek, kami pun yang sudah dewasa ikut-ikutan memanggil beliau nenek.

Di sebelah rumah nenek ada seorang ibu, single parent, yang mempunyai dua anak. Namanya Bu Nyai. Bu Nyai ini tinggal dengan anaknya yang nomer dua, laki-laki bernama Bakti. Bakti berusia 4 tahun. Tentu berat ya hidup sendiri tanpa suami. Bu Nyai rajin sekali. Dia buka usaha pembuatan roti kering dan roti basah. Selain itu setiap pagi dia berjualan nasi uduk di teras depan rumahnya. Masakannya enak lho!

Bu Nyai dan nenek punya hubungan keluarga. Suaminya Bu Nyai adalah keponakan dari Kakek (Pak Adang). Nenek-lah yang membantu Bu Nyai dalam segala hal, mengurus Bakti, membantu memasak makanan yang akan Bu Nyai jual setiap paginya, membantu membereskan barang-barang yang digunakan untuk berjualan di pagi hari, menemani Bu Nyai belanja ke pasar, dan masih banyak lagi bantuan-bantuan nenek untuk Bu Nyai. Tapi tidak pernah sedikit pun saya lihat kekesalan di wajahnya. Yang memancar dari wajahnya hanyalah ketulusan. Saat kami duduk bersama, tidak pernah sedikitpun ada kalimat keluhan keluar dari mulut nenek. Bahkan tidak pernah sedikit pun beliau menjelek-jelekkan orang lain.

Hal ini tidak hanya dilakukan pada Bu Nyai dan Bakti. Pada tetangganya yang lain pun beliau selalu baik, selalu tulus dalam melakukan sesuatu. Saya ini wanita yang ceroboh dan pelupa. Kadang saya lupa kalau saya punya jemuran di luar. Padahal Bogor adalah kota hujan. Hampir setiap jam 2 siang, Bogor hujan. Nenek-lah yang mengangkat jemuran saya dan melipatnya dengan rapi. Hal ini dilakukan hampir setiap kali saya mencuci. Bukannya saya mengandalkan beliau, tapi ketika hari sudah mulai mendung, saya pasti masih enak-enaknya tidur. Tahu-tahu sudah hujan deras sekali. Kadang saya merasa tidak enak pada nenek. Apa jadinya kalau tidak ada beliau? Nenek juga rajin berteriak-teriak memanggil nama saya karena seharian saya tidak keluar rumah. Kata nenek, nenek khawatir jangan-jangan saya sakit. Bahkan disaat saya hamil, beliau sering bertanya pada saya, saya mau dibuatkan makanan apa. Haduh..masih banyak deh bentuk perhatian beliau yang lainnya. 

Saya salut sama nenek. Nenek selalu bisa bersikap baik dengan semua orang, sekalipun orang itu baru saja dikenalnya. Nenek selalu bisa bersikap tulus tanpa pamrih pada semua orang yang dia tolong. Saya ingin seperti beliau, hatinya, sikapnya, perhatiannya. 

Nek, jangan kapok ya punya tetangga seperti saya yang pelupa dan ceroboh. Semoga di masa tuamu, Tuhan memberkati engkau berlimpah-limpah, melingkupi engkau dengan damai sejahtera dan sukacita, serta memberikan kesehatan dan umur panjang.

Monday, November 7, 2011

8 Minggu yang Melelahkan

Beberapa hari ini saya memang malas sekali menulis. Bukan karena sudah bosan dengan blog saya tapi gangguan perut saya yang membuat saya susah untuk duduk berlama - lama. Ini pun masih sedikit malas - malasan. Tapi karena saya melihat kondisi blog saya yang tak terurus, saya membulatkan tekad untuk menghadap letti.

Kehamilan saya menginjak 8 minggu. Mmm.. Kalau tidak salah hitung lho! Soalnya saya orang yang paling malas kalau disuruh menghitung hari. Dan ini lagi parah-parahnya. Tiap hari saya muntah dari pagi sampai malam. Ini yang membuat saya tidak enak makan sama sekali. Tapi tetap saya paksa. Saya tidak boleh egois. Sekarang di dalam tubuh saya ada nyawa yang harus saya pertanggungjawabkan jika terjadi sesuatu. Maka dari itu, mual atau tidak, saya tetap harus makan. Kata mama, makannya nggak perlu banyak, tapi usahakan sesering mungkin. Saya juga jadi rajin makan buah dan sayur. Mulai dari mangga muda, jambu asem, sampai pepaya yang super manis. Bahkan yang awalnya saya kurang suka sayuran, sekarang saya lahap semua tanpa pilih-pilih. Contohnya wortel. Entah kenapa saya tidak suka dengan makanan kelinci ini. Tapi tetap saya makan supaya penglihatan anak saya bagus, tidak perlu memakai kacamata seperti ayah ibunya hehe..

Yang membuat saya kesal adalah saat mual saya sedang parah-parahnya, ada saja makanan enak di depan saya. Contohnya kejadian kemarin. Suami saya dan teman-temannya sengaja urunan uang untuk membeli seekor kambing dalam rangka ikut menyemarakkan Idul Adha. Kambing itu dipotong sendiri di rumah Mas Iskak, salah satu senior suami saya. Daging kambing itu ada yang di sate, ada juga yang di tongseng. Begitu saya sampai di rumah Mas Iskak, bau aroma sate kambing langsung menusuk hidung saya. Mulut saya sudah menganga seperti lele kehabisan udara, tapi perut saya berteriak NO NO NO NO NOOOO. Alhasil saya cuma makan sate kira-kira empat tusuk. Haduh..nggak berasa sama sekali kan? Tapi ya sudahlah mau apa lagi. Mungkin baby saya alergi daging.

Oya, tips buat para ibu hamil yang sedang mual-mualnya. Recommended banget nih! Pagi-pagi sebelum kita mengangkat kepala kita dari bantal, makan biskuit dulu. Biar mualnya berkurang. Terbukti lho! 
Selamat menikmati berkat Tuhan yaaa.. :)

Friday, October 28, 2011

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Melihat perkembangan anak muda jaman sekarang memang agak ngelus dada. Masa' ditanya isi Sumpah Pemuda pada nggak tau sih? Kebangetan banget kan. Apa di sekolahnya nggak ada pelajaran Sejarah? Atau siswanya yang selalu tidur saat pelajaran Sejarah? Saya juga tidak membenarkan diri saya sendiri. Dulu saya juga benci pelajaran Sejarah, karena saya diharuskan menghafal dan saya tidak punya daya ingat yang bagus dalam menghafal. Tapi setidaknya ada satu dua hal yang masih nyantol di otak saya, termasuk isi dari Sumpah Pemuda. 
Kemarin saya melihat sebuah acara TV yang mengupas tentang Sumpah Pemuda dan pemuda jaman sekarang. Yang tentu saja bagi saya percuma saja. Toh pemuda jaman sekarang merasa tidak punya korelasi antara Sumpah Pemuda dan diri mereka. Bintang tamu pada acara tersebut berkata bahwa cinta Indonesia tidak perlu ditunjukkan dengan atribut-atribut yang kita gunakan. Cinta Indonesia ditunjukkan dengan apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia. Dari situ saya berpikir, saya belum menunjukkan cinta saya pada bumi yang saya pijak sejak 23 tahun yang lalu. Bahkan kadang saya cenderung malu dengan negara saya sendiri, dengan ulah para pemimpin bangsa yang katanya membawa amanah rakyat. Seharusnya cinta Indonesia bisa saya tanamkan pada diri saya tanpa melihat perbuatan orang lain. 
Yang membuat saya tambah miris adalah hari Sumpah Pemuda diwarnai dengan aksi demonstrasi mahasiswa yang menurut saya tidak masuk akal. Mereka menuntut kepemimpinan SBY-Boediono yang menurut mereka gagal total. Kalau mereka jadi Presiden, apakah mereka bisa melakukan perubahan-perubahan yang lebih baik? Saya tidak yakin! Seandainya saya punya perusahaan, akan saya blacklist wajah-wajah demonstran itu, supaya mereka tidak bisa masuk ke perusahaan saya. Mereka kan cuma bisa protes.
Tapi saya juga tidak membenarkan pak Presiden. Saya tidak peduli dengan reshuffle kabinet. Saya tidak peduli dengan para koruptor yang semakin meraja lela. Yang seharusnya pak Presiden pikirkan adalah mereka yang masih sulit sekolah karena masalah kemiskinan. Adalah mereka yang tinggal di perbatasan Indonesia - Malaysia, yang hidup jauh dibawah kata miskin. Adalah mereka yang masih mengalami krisis pangan dan kelaparan padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris. 

Faktanya adalah bangsa yang pernah menjadi macan Asia Tenggara ini kehilangan taringnya!

Lalu bagaimana dengan pemudanya? Bangsa yang besar ada di tangan pemuda!

Selamat hari Sumpah Pemuda. Tuhan memberkati Indonesia :)


Thursday, October 27, 2011

Dampak MU Pada Suami Saya

Saya mau bercerita sedikit tentang suami kebanggaan saya. Dia itu ngefans sekali sama Manchester United. Hampir setiap pertandingan MU dia tonton, kecuali jika bertepatan dengan jam kerjanya. Tapi seingat saya, itu jarang sekali terjadi. Saking ngefansnya sama MU, dia selalu memakai team ini saat bermain PES 2011. Bahkan saat kami berlibur ke rumah om di Pamulang beberapa waktu lalu, dia tetap menyempatkan diri melihat team jagoannya berlaga. Dan kebetulan saat itu, om saya juga mengidolakan MU. Rumah itu mendadak jadi seperti stadion sepak bola, ramai sekali padahal cuma teriakan dua orang.

Setiap kali MU berlaga, saya hanya bengong. Sesekali mengimbangi teriakan heboh suami saya. Tapi selalu saya coba untuk ikut menonton Setan Merah beraksi. Saya hanya ingin tahu, apa sih yang suami saya sukai dari olahraga macam ini. Buat saya olahraga ini agak konyol. Satu bola diperebutkan oleh 22 pria tampan. Kenapa mereka tidak jadi artis saja, tidak menguras tenaga bukan? Hehe..

Kembali ke suami saya. Insiden mengharukan pun terjadi. Tanggal 23 Oktober kemarin Manchester United berlaga melawan Manchester City. Demi pertandingan ini, saya mengcancel kunjungan (ceileee..) saya ke rumah teman suami saya. Waktu itu pertandingannya kalau tidak salah pukul 19.30 di MNC TV. Suami saya sudah bersiap di depan TV sejak pukul 18.00. Sepertinya dia excited sekali. Dan disaat seperti ini, saya harus tetap menjaga mood-nya. Kalau saya ingin mengganti saluran TV, saya harus minta ijin terlebih dahulu.

Pertandingan pun dimulai. Suami saya pun memulai aksi melototin TV. Jangan pernah mengajaknya bicara saat dia sedang melakukan aksi binalnya ini, karena hasilnya akan sia-sia saja. Dari awal pertandingan sudah terlihat raut ketidakpuasan di wajah suami saya. Benar saja, gol pertama pun dicetak Manchester City, diikuti dengan gol-gol cantik lainnya. Suami saya memulai aksi keduanya saat jagoannya kalah, yaitu dengan mengomentari pemainnya satu persatu. Tidak ada yang luput dari komentar pedasnya. Saya hanya bengong karena saya bingung harus menjawab apa. Hahaha..

Mungkin karena dia tidak sanggup melihat jagoannya kalah, dia mengajak saya untuk tidur. Besoknya dia tahu bahwa jagoannya kalah 6-1 dari Manchester City. Dan sebagai dampak dari kekecewaannya, dia mengubah nama teamnya di game PES 2011 dari Manchester United menjadi SV Werden Bremen. Sungguh kekecewaan yang luar biasa! Ahahahaha..

Sayang, besok lagi kalau ada pertandingan sepak bola nggak usah nonton yah. Mending kita nonton OVJ atau Comedy Project aja :P


Monday, October 24, 2011

Meninggalkan Facebook

Mungkin efek dari hamil, saya jadi agak sensitif. Saya nggak suka dengan beberapa boyband, saya nggak suka dengan bau amis, dan masih banyak lagi. Tapi yang membuat saya heran adalah saya jadi nggak suka dengan komentar-komentar orang tentang hidup saya. Saya benar-benar sedang sensitif!

Maka dari itu mulai hari ini saya putuskan untuk TIDAK MENG-UPDATE STATUS DI FACEBOOK. Saya hanya akan mengomentari status orang saja. Kalau akun facebook bisa dihapus, mungkin akan lebih baik jika saya menghapusnya. Karena kadang dengan facebook, orang merasa berhak untuk ikut campur urusan orang lain. Dan saya tidak suka ada orang lain yang mencampuri urusan saya. Lebih baik saya kuper dari pada makan hati. 

Memang benar orang hamil harus lebih menjaga segala sesuatu, tapi bukan berarti orang hamil tidak boleh bercanda kan? Tapi kalau maunya seperti itu, saya juga bisa serius. Dan bagi beberapa orang yang sudah saya blacklist dari facebook dan dari hidup saya, enjoy this! Saya nggak akan menghapus atau memblokir akun kalian karena rasanya tidak sopan. Jadi mata-matai terus saja facebook saya, biar kalian happy :)


Selamat hari Senin.. Tuhan Yesus memberkati..

Saturday, October 22, 2011

Saya Rindu Mama

Saya selalu merindukan mama saya. Caranya berjalan, caranya tidur, caranya makan, semua seperti mengendap di otak saya. Saya hafal semua tentang mama saya. Bau parfumnya pun kadang berkelebat di hidung saya.




Saya membutuhkan mama saya. Saya ingin selalu berada di dekatnya, membahagiakannya, menemaninya kemanapun dia pergi, dan mentraktir empal gepuk favoritnya. Saya sungguh-sungguh merindukannya. Hampir tiap malam saya berharap mama saya ada di sebelah saya, menemani tidur saya, bercerita tentang tetangga-tetangga yang aneh, dan tertawa pelan-pelan supaya papa saya tidak tahu kalau dia sedang jadi bahan lelucon kami. Bahkan saya merindukan ceramah akbar ala mama saya ketika saya pulang larut malam atau ketika kata-kata yang tidak sopan keluar dari mulut saya. Saya ingin selalu menjaga mama, mengusap air matanya saat adik saya melukai hatinya, mengoles punggungnya dengan minyak ponari saat angin yang tidak sopan masuk ke tubuh mama, menunggu mama pulang dari arisan, mengantar mama belanja ke Pasar Beringharjo, dan mengajak mama ke Pantai Parang Tritis menikmati sunset dan bermain air sampai lupa waktu.

Mama sangat kuat. Tak ada yang bisa mematahkan semangatnya, tak ada yang bisa menumbangkan keberaniannya, tak ada yang bisa menyurutkan langkahnya. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, dia masih lincah bergerak kesana kemari. Menjadi pengurus RW, mengambilkan pensiun eyang lalu mengantarnya ke kaki gunung merapi, tidak pernah absen datang doa malam, dan tidak pernah bilang tidak jika ada temannya yang membutuhkan bantuannya sekalipun rumah temannya itu berkilo-kilo jauhnya.

Mama sangat pemaaf. Tidak pernah menyimpan kesalahan orang lain, mendoakan orang-orang yang sudah menyakiti hatinya, dan selalu rajin memaksa saya untuk bisa memaafkan orang-orang yang sudah menyakiti saya. Mama sangat tabah menghadapi apapun. Dia tidak pernah mengeluh sekalipun dia sudah tidak mampu berdiri. 

Saya ingin seperti mama, kuat, tangguh, tabah, pemaaf, sabar, dan selalu dirindukan kehadirannya oleh anaknya. Saya ingin seperti mama, tidak ada kata menyerah menghadapi apapun. Saya ingin seperti mama, mengandalkan Tuhan sepenuhnya dalam kehidupannya. Saya ingin seperti mama, kadang menjadi guru, kadang menjadi sahabat yang baik, dan kadang menjadi pelawak. Hehe..

Kelak ketika saya punya anak, saya ingin anak saya seperti mama. Akan saya ceritakan semua kebaikan eyangnya, dan betapa kagumnya saya padanya.

Saya merindukan mama.. *hug


your girl,

Aku Terpaksa Menikahinya


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. 

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


DIKUTIP DARI :http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Friday, October 21, 2011

Yey, I'm absolutely preggo

Saya sangat excited sekali menunggu hari ini tiba. Hari ini adalah hari pertama saya memeriksakan kandungan saya ke dokter. Apalagi suami saya, dia terlihat agak tegang. Dan saya pun menjadi lebih tegang dari dia. Entah apa yang membuat saya merasa gugup, mungkin karena baru pertama kali berurusan dengan dokter kandungan. Apalagi dokter yang saya pilih itu pria. Hah..bagian terpenting saya akan dilihat oleh pria lain!

Karena saya mendapat jaminan sepenuhnya dari perusahaan suami saya, kami bisa lebih ngirit. Tapi urusannya lebih ribet. Tadinya saya cuma dapat jatah vitamin untuk 5 hari karena resepnya harus diklaim oleh perusahaan terlebih dahulu untuk mendapatkan jatah vitamin selama sebulan. Tapi saya berinisiatif untuk menggunakan uang saya, baru kemudian minta ganti ke perusahaan. Supaya saya tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit itu.

Setelah mengurus perihal pendaftaran dan mendapatkan kartu berobatnya, saya pun menyerahkan nomer antri ke asisten dokternya. Oh my God..dokter yang saya inginkan sedang cuti, jadi saya harus ke dokter lain. Padahal dokter itu baru akan praktek jam 11, sementara saat itu masih jam 8. Setelah menimbang berat badan dan ukur tensi, kami berinisiatif untuk pergi ke dealer motor terdekat. Si Jupie kan lagi sakit parah! Kira-kira 1 jam kemudian, Si Jupie selesai dipoles. Karena didera rasa lapar yang ruarrr biasa, kami memutuskan untuk mencari rumah makan terdekat. Kami berkeliling di sekitar Pajajaran. Tapi tak satu pun rumah makan yang menggoda perut kami. Saya pengennya makan makanan jawa atau sunda, tapi tidak saya temukan yang cocok. Kami lanjutkan berputar-putar ke arah RS. Marzoeki Mahdi. Baru disekitar sanalah kami menemukan rumah makan yang pas. Tepat jam 10.30 kami kembali ke rumah sakit. Antriannya sudah panjang, dan saya sangat lega. Hehe.. Tapi kemudian si suster naas memanggil nama saya. Ternyata saya pasien pertama. Huaaaahh.. 

Setelah panik selama berjam-jam, ternyata kenyataannya jauh dari bayangan saya. Si dokter -- oya, dokter saya namanya dr. Suwarsono Sp OG -- ramah sekali. Dia bertanya banyak hal. Mulai dari gejala awal kehamilan saya sampai harga emas yang sekarang melambung tinggi. Setelah bertanya tentang tanda-tandanya, dokter menyuruh saya berbaring untuk USG. Hasilnya kantung rahim saya sudah mulai menebal. Saya dipesan untuk lebih berhati-hati menjaga kondisi tubuh saya, rutin minum vitamin, dan makan segala jenis makanan. 

Keluar dari ruang periksa, mungkin wajah saya terlihat pucat karena semua orang melihat ke arah saya. Atau mungkin mereka heran kenapa perempuan se kecil saya sudah hamil. Hahaha..

Setelah mengambil obat yang jumlahnya ada 3 jenis -- vitamin, obat mual dan pelancar BAB -- kami langsung beranjak pulang. Saat di jalan berulang kali saya berteriak kepada suami saya untuk memperlambat laju sepeda motornya. Sorry honey :D

Sekarang tugas saya selanjutnya selain melayani suami dengan senyuman (kaya' di restoran), saya juga harus menjaga kesehatan janin yang ada di perut saya. Yey, I'm preggo! Hahaha..


Luv,

Wednesday, October 19, 2011

Kesal Bertubi - Tubi

Hari ini saya lalui dengan banyak kekesalan. Mulai dengan bangun kesiangan gara-gara masih ngantuk berat, belanja ke pasar hampir kepleset, nyari lotek sampai muter 10 kampung tetep aja nggak dapet (dapetnya di sebelah rumah yang ternyata nggak ada enak-enaknya sama sekali), dan diakhiri dengan mati lampu kira-kira 3 jam, hujan deras kira-kira 2 jam, dan airnya ngadat seharian. Yang terakhir ini benar-benar membuat saya naik darah sampai ubun-ubun. Tadi pagi saya adus bebek (mandi bebek), sekarang saya nggak tersentuh air sama sekali. Dan yang membuat saya lebih kesal adalah TIAP BULAN SAYA HARUS BAYAR REKENING AIR YANG LUAR BIASA MAHALNYA! Ya ampuuuunn.. apa sih salah enyak babeh sayah????? 

Kadang saya berpikir kenapa saya tidak menyuruh suami saya untuk merakit bom lalu meledakkan PAMnya. Suami saya kan juru ledak, punya KIM, kenapa tidak digunakan semestinya? Atau kenapa saya tidak datang ke kantornya dan ngebiri sang boss? Kalau saya jadi boss nya PAM, dan airnya tiba-tiba nggak ngalir, akan saya suruh anak buah saya keliling kampung pakai mobil tangki yang bawa air, biar orang-orang tetap bisa dapat jatah air sebagaimana mestinya (seumpamanya lho! Hahaha). Kite-kite kan udah bayar cing, kenape masih ngadat juga airnye? Eh, loe pikir kite-kite ini kagak bise bayar air ape? Benget siak eta kawas kuda bangor! (Campur-campur yo ben, nek nesu ki nganggo basa opo wae ra masalah, sah-sah wae) 


P.S : Marah-marahnya sambil gigitin meja-kursi, salto depan belakang, garuk-garuk kompor, tendang-tendang upil kering (suka-suka gue donk!)

Monday, October 17, 2011

5 Minggu 3 Hari

Saat ini usia kandungan saya sudah 5 minggu 4 hari. Banyak sekali kejadian-kejadian menarik selama 5 minggu itu. Awalnya saya tidak menyadari keberadaan kandungan saya karena memang tidak ada tanda-tanda khusus. Saya menyadarinya ketika saya sudah terlambat haid 5 hari. padahal dalam sebulan kemarin saya banyak melakukan aktivitas fisik yang berat. Saya naik wahana-wahana yang menggoncang perut saya di Ancol, saya naik motor kemana-mana dengan suami saya yang notabene suka sekali kebut-kebutan, dan yang terakhir saya terpental di lantai dengan cantiknya. Tapi semuanya muzizat. Saya dan janin saya sehat.

Saya akan bercerita sedikit tentang tanda-tanda kehamilan saya. Awalnya perut saya rasanya seperti akan mens. Kram, keras, dan agak sakit. Payudara saya (maaf) juga terasa sangat keras dan sakit. Saya pikir karena hentakan di lantai yang sangat keras membuat mens saya telat. Tapi setelah saya tunggu selama 5 hari, mens saya tidak juga datang. Say membeli testpack dengan merk yang paling bagus, lalu saya tes pagi-pagi. Hasilnya sungguh membuat mata saya seperti mau loncat keluar.

Tanda-tanda lain yang mengikuti awal kehamilan saya adalah jerawat dimana-mana, gusi agak sedikit bermasalah, lemas, dan ngantuk. Puji Tuhan sampai saat ini saya belum ngidam, mual, dan muntah. Kadang-kadang perut bagian bawah juga agak kram. Tapi apapun yang terjadi di keesokan hari, membuat saya excited. Saya tidak sabar menunggu gejala-gejala lain yang akan dialami oleh para wanita hamil. Yang saya minta, saya diberi kekuatan, kesabaran, dan kemampuan meredam emosi. Saya ingin mempunyai anak yang manis, tidak mudah marah, sabar, dan pemaaf. 

Oya, kalau soal makanan, tidak ada kata ngirit lagi. Saya beli semua jenis buah, kecuali durian, salak, dan nanas. Saya makan semua jenis sayur terutama brokoli, kembang kol, bayam, kentang, dan wortel. Saya juga masak semua jenis kacang-kacangan yang katanya mengandung banyak nutrisi. Saya ingin menjauhkan janin saya dari obat-obatan, maka dari itu saya masukkan semua makanan yang alami (yang walaupun saya tidak suka) ke dalam mulut saya. Semua demi janin yang ada di dalam perut saya. Saya juga menghindari makanan yang belum matang atau setengah matang, junkfood, dan makanan instan. Padahal itu adalah makanan-makanan yang sangat saya sukai. Pokoknya demi bayi yang sehat, lincah, dan cerdas, saya kalahkan ego saya. Saya juga rajin minum air putih (minimal 8 gelas sehari), susu (2 kali sehari), jus buah dan jus sayur setiap hari. Mumpung saya belum merasakan mual, dan semoga saja tidak merasakannya.

Kehamilan pertama saya ini membuat saya sedikit agak tegang dan khawatir. Apalagi saya jauh dari mama. Saya hanya mengandalkan buku-buku dan informasi dari teman-teman saya yang sedang hamil juga. Tentu saja saya andalkan Tuhan, itu yang paling penting. Doa saya, saya selalu sehat, tidak menyusahkan suami, tetap mandiri, dan semakin bertanggung jawab dengan semua hal yang sudah Tuhan kasih dalam hidup saya. 


"A baby is something you carry inside you for nine months, in your arms for three years, and in your heart till the day you die"

Mimpi Terindah TOFU

Melayang aku

Kau buatku terbang tinggi di awan

Terhanyut aku setiap kudengar syair cintamu
Nyatakah semua yang terjadi pada setiap hariku

Ku terhanyut

Saat kau berjanji

Dan kau (ku) wujudkan mimpi yang terindah

di setiap malam

Agar aku (kau pun) tersenyum

Terjaga dari tidurku (tidurmu)

Dan kau jadikanku ratu di kerajaan cintamu

Agar aku pun bahagia

Duduk berdua denganmu selamanya

Ooh.. selamanya kau rasakan indah hari

dengan kasihku

Selalu tersenyum dirimu oh kasih cintaku

Selalu selamanya

Sunday, October 16, 2011

I Lend This Child to You

Aku akan pinjamkan bagimu untuk sesaat
Seorang anak milikKu, kataNya
Untuk kau cintai semasa ia hidup
Dan untuk ditangisi saat ia meninggal
Mungkin selama enam atau tujuh tahun
Atau dua puluh dua atau tiga
Tapi maukah kau --sampai Aku memanggilnya pulang -- menjaganya untukKu?
Maukah engkau memberikan padanya seluruh kasihmu?
Tanpa berpikir pekerjaan itu sia-sia
Atau membenciKu saat Aku datang memanggil -- untuk mengambilnya kembali?

Pernah dengar puisi di atas? Cuplikan puisi di atas adalah karya Edgar A. Guest yang judulnya I Lend This Child to You

Saya suka sekali dengan puisi di atas. Puisi ini mencelikkan mata saya bahwa semua yang saya miliki saat ini adalah milikNya, pinjaman dariNya. Termasuk anak-anak yang nantinya akan Tuhan titipkan pada saya. Mereka milik Tuhan dan suatu saat harus dikembalikan kepada pemilikNya. Nah, sebagai orang yang dipinjami, apa yang seharusnya saya lakukan?
Lebih besar tanggung jawabnya dari pada ketika kita meminjam buku atau kaset CD. Kita harus menjaganya, menyayanginya, melindunginya, memimpinnya, mengarahkannya., dan tentu saja tujuannya agar anak-anak kita kelak mengenalNya dan dekat pada Sang Empunya hidupNya.

Tidak saya pungkiri, hal-hal diatas bukan hal yang mudah. Tanggung jawab kita sangat besar. Saya tidak ingin ketika nanti Tuhan memintanya kembali, tidak Tuhan temukan tanggungjawab pada diri saya. Saya ingin jadi ibu, sahabat, dan pelindung untuk anak-anak saya kelak. Saya ingin jadi penjaga iman mereka. Saya ingin jadi guru untuk mereka. Saya ingin jadi yang terbaik untuk mereka. Dan takut akan Tuhanlah yang akan saya tekankan pada mereka.

Terimakasih Tuhan untuk kado terindah ini. Akan saya jaga untuk KemuliaanMu.


Welcome to mom's life,

Wednesday, October 12, 2011

Musim Hujan yang Terlambat

Ebuseeeett daaaahh.. Udah dua hari ini Bogor hujannya alamakk banget! Yang kemarin hujan es lho. Ya elahh..Tuhan mah aya-aya wae! Hujan air aja udah bikin orang-orang pada heboh karena jemurannya nggak kering-kering, ini pakai es segala. Apalagi kalau sama mati lampu tuh, rasanya aku pengen makan beling sambil salto depan belakang. Pengennya sih seminggu atau dua minggu tanpa hujan gitu deh, atau pas suami libur nggak usah hujan dulu biar aku dan suami bisa ngider-ngider di kota, merasakan udara dan makanan kota gitu. Ada senengnya juga sih kalau hujan. Aku nggak perlu bingung nyari air, nggak kering, nggak berdebu, dan Bogor semakin sejuk.


Tapi kalau aku boleh tawar menawar sama Tuhan, aku pengen hujan ini dibagi sama kota lain yang nggak ada hujan beberapa bulan ini. Supaya nggak ada lagi kekeringan, nggak ada kematian, nggak ada kesedihan, dan semuanya bisa merasakan sukacita yang aku rasakan. Kalau lagi di kondisi yang seperti ini, yang jarang ada hujan, aku benar-benar merasakan bahwa hujan adalah berkat Tuhan yang luar biasa. Mana ada manusia yang bisa hidup tanpa air. Semua mahluk hidup butuh air.


Manusia memang susah ditekankan untuk mensyukuri sesuatu. Jika kita berdoa tapi Tuhan tidak memberi, kita pasti marah, protes bahkan menghujat Tuhan. Mengatakan bahwa Tuhan tidak menyayangi kita. Jika Tuhan memberi dengan berlimpah -- seperti hujan saat ini -- kita juga menggerutu dan protes. Kasihan Tuhan ya, jadi serba salah. Aku nggak mau ah seperti itu. Aku akan terus mencoba selalu berterimakasih padaNya atas apapun jawaban Tuhan.


Jadi buat kota-kota atau negara-negara yang belum turun hujan, teruslah berlutut. Suatu saat tangisan pasti akan digantikan dengan sorak sorai. Mungkin musim hujan datang agak terlambat.




Luv,





Tuesday, October 11, 2011

Jatuh Itu Sakit.. Sumpah!

Hari ini judulnya hari yang menyakitkan. Dimulai dengan bangun kesiangan, keduluan suami. Masakan yang kurang enak tidak seperti biasanya. Marah-marah nggak jelas sama suami, sampai-sampai mukanya bete setengah hidup pas mau berangkat kerja. Tapi kemudian suasananya cair lagi setelah saya kiss-kiss dia bertubi-tubi hahaha.. Dan yang terakhir ini paling menyakitkan. 

Air PAM di rumah saya agak nggak beres. Mungkin ada yang nyedot pakai pompa jadi ngalirnya ke rumah saya cuma kecil, seperti pipis kucing. Karena ngalirnya cuma kecil sementara bak tampungnya besar, saya tinggal nonton TV sambil Facebook-an. Tiba-tiba dari arah dapur -- bak tampungnya ada di dapur -- ada suara kricik-kricik disertai banjir di lantai. Saya pun panic at the disco! Saya ambil kain lap pel, kemudian saya bersihkan lantainya. Setelah itu saya sibuk di depan layar. Tidak lama kemudian saya ingat cucian saya yang belum saya rendam di kamar mandi. Saya pun dengan sedikit tergesa-gesa, berlari-lari kecil ke kamar mandi. Tapi kemudian, mak gedubrakk! saya jatuh dengan indahnya disebelah bak tampung yang lantainya masih lembab. Baju dan celana saya basah kuyup, kepala saya benjol, kaki saya lecet-lecet, dan pantat saya memar. Sakitnya sih nggak seberapa. Malunya itu lho!

Kemudian saya berpikir, apakah ini efek dari saya bolos Persekutuan Doa? Haha.. Who knows? Yang jelas sekarang saya tidak bisa duduk, tidak bisa tidur miring kanan, pincang, dan perut saya kram. Saya berharap suami saya cepat pulang dan membawakan sebungkus nasi goreng Sindang Reret favorit saya. Apa sih hubungannya??? :p

Oya, semoga besok lebih baik yah..


xoxo,

Monday, October 10, 2011

Papaku Anugerah Tuhan

Pernahkah kalian berkhayal seandainya saja ayah atau ibu kalian bisa diganti dengan pria atau wanita lain? Tadi malam sebelum tidur saya sempat ngoceh di samping suami saya, andai ayah saya bisa ditukar dengan yang lain. Yang hasilnya adalah saya ngoceh sendiri seperti orang gila karena ternyata suami saya tidur pulas. Padahal saya mengharapkan tanggapan positif darinya.

Begini. Saya ini mewarisi ciri-ciri fisik yang hampir sama dengan papa saya, dan tidak munafik, kadang saya tidak menyukainya. Beberapa kali saya sempat berharap papa saya bisa ditukar dengan orang-orang yang pernah dekat dengan mama saya atau yang pernah saya lihat di sekeliling saya.

Contohnya :

  1. Pak Wahono (pacar pertama mama, sekarang majelis di salah satu GKJ di Jogja) ~ Kalau mama menikah dengannya, badan saya pasti tinggi dan seksi. Tapi hidung saya besar dan kulit saya hitam!
  2. Om Hendri (pacar kedua mama, tetangga eyang saya di Baciro) ~ Kalau yang ini, badan saya pasti tinggi dan putih. Tapi pasti gemuk dan saya suka ke dukun, mewarisi sifat ayah.
  3. Om Gaib (pacar ketiga mama, orang wonosari) ~ Kalau sama yang ini, badan saya pasti tinggi, putih, cantik dan kaya. Tapi sekarang status saya pasti anak yatim karena ditinggal ayah saya kabur ke Kalimantan gara-gara punya hutang ratusan juta.
  4. Om Yuyub (teman dekat mama, rumahnya dekat SMA saya) ~ Wah, tidak diragukan lagi. Saya pasti jadi perempuan yang sangan cantik, tinggi, dan kaya raya karena ayah saya adalah bendahara di kantor bupati Wonosari. Tapi status saya saat ini sudah pasti anak yatim. Kan ayah saya meninggal karena kanker buah zakar.
  5. Om Win (pacar keempat mama, orang Bandung) ~ Kalau mama menikah sama Om Win, saya jadi neng geulis, seksi, dan cantik. Tapi lagi-lagi saya akan jadi anak yatim karena ayah saya ini lebih memilih untuk menceraikan mama saya dan menikah dengan pelacur yang sudah lama diselingkuhi olehnya!
Dan masih banyak pria-pria yang saya bayangkan menjadi ayah saya. Tentu saja agar saya menjadi lebih baik dalam segala hal. Tapi akhirnya selalu saja mengecewakan. Tidak ada yang seperti papa saya.

Setelah saya pikir-pikir lagi, saya ini jauh lebih beruntung dari pada anak pria-pria diatas. Tuhan memberi saya seorang ayah yang tidak suka ke dukun, tidak suka selingkuh, tidak berpenyakit aneh, dan tidak punya hutang. 

"The greatest gift I ever had, came from God. I call him DAD"


Your girl,

Sunday, October 9, 2011

Thank You for Your Friendship

Sudah tiga bulan saya tinggal di kota hujan. Artinya sudah tiga bulan juga saya tidak bertemu orang-orang terdekat dalam hidup saya. Memang aneh rasanya jika dalam waktu yang cukup lama mereka tidak ada di sisi saya, sementara beberapa kali saya rasakan kehadiran mereka memang sangat penting. Saya bukan orang yang dengan mudah bisa mencurahkan isi hati saya pada orang lain. Oleh karena itu campur tangan orang-orang yang entah kenapa tiba-tiba ada pertalian batin dengan saya itu terasa menyempurnakan kekurangan saya. Tidak saya pungkiri, suami saya juga merupakan tempat bercerita yang asyik. Dia pas mengisi kekosongan saya. Tapi bukan berarti saya tidak butuh sahabat-sahabat saya. Both of them are very important!
Lohan Njenong
*Sulastri a.k.a Lohan Njenong a.k.a Nonong ~ Dia mirip dengan saya. Sama-sama berbadan kecil, sama-sama berambut panjang rebondingan, sama-sama berkulit sawo matang, sama-sama suka warna hitam dan putih, sama-sama suka shopping, dan sama-sama suka foto-foto narsis. Saya mengaguminya, sangat. Dia perempuan single berusia 24 tahun, dewasa, tenang, ramah, dan sangat baik hati. Tidak pernah saya lihat dia berkonfrontasi dengan orang lain. Saya sangat berharap dia bisa segera melepas masa lajangnya dan bisa merasakan kebahagiaan yang saat ini saya rasakan.
Pricilla Yunika Kurniawati
*Pricilla Yunika Kurniawati a.k.a Unique ~ Badannya bongsornya selalu membuat kami terlihat seperti ibu dan anak. Rambutnya panjang rebondingan bercat cokelat, kulitnya agak sedikit lebih hitam dari saya. Dia suka sekali dandan, kemanapun dan dimanapun. Dia suka dengan sesuatu yang berkesan menonjol atau norak hehe.. Dia suka shopping, mie ayam, makan tanpa sendok, menghabiskan daging ayam sampai ke tulang-tulangnya, dan bercita-cita menikah dengan seorang musisi. Dia ini perempuan yang dewasa, bijaksana, problem solver, dan tangguh. Bulan September kemarin dia resmi dilamar, dan akan segera melangsungkan pernikahan pada bulan Juli tahun 2012. Semoga segera terwujud!
Riena Dwi Dharmawati
*Riena Dwi Dharmawati a.k.a Ririn ~ Sebenarnya kami ini saudara sepupu. Dia anak dari Om saya. Kami sangat dekat. Banyak hal yang selalu kami lakukan bersama-sama. Ke salon, makan cokelat, window shopping, nonton film horor, dan tidur bersama. Ririn adalah perempuan yang melow, pendiam, sayang pacar (sayang sekali lho), pintar bermain musik, dan pendengar yang baik. Saat ini dia sedang menyelesaikan skripsinya. Semangat ya Sis! I always pray for you :)
Emrenciana Stacia Christy
*Emrenciana Stacia Christy a.k.a Cico ~ Kami sama-sama suka bicara keras-keras, tertawa keras-keras, dan bergosip keras-keras. Pegawai pertamina ini dulu kakak rohani saya. Dia yang menguatkan iman saya, yang membimbing saya agar tidak melenceng dari jalanNya. Dia suka sekali dengan yang namanya shopping, nongkrong, dan poto-poto narsis. Cico adalah perempuan yang sangat dewasa, pekerja keras, sangat sayang mama, alergi XXI, pecinta junk food, suka pakai wedges kemana-mana, suka termakan iklan, dan up-to-date sekali dalam dunia fashion. Katanya sih dia sedang fokus ke pekerjaan barunya, dan mengesampingkan urusan pacar. 

Florentine Febriyantica Christy
*Florentine Febriyantica Christy a.k.a Aik ~ Cico dan Aik adalah saudara kandung. Tapi mereka bedaaa sekali. Aik masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja mengambil jurusan Komunikasi. Hobinya sih sama dengan adiknya, Cico. Tapi soal sifat, mereka bagaikan minyak dengan air. Aik sangat cuek, tenang, lebih pendiam, suka dengan kegiatan yang cewek banget contohnya menjahit dan merajut, rambutnya lurus panjang, dan pintar sekali memasak. Cepat lulus dong bu, biar cepat kerja terus merit deh!

Banyak sekali kenangan saya bersama mereka. Dan jika nanti suatu saat saya pulang ke Jogja, akan saya kumpulkan lagi kepingan-kepingan pelengkap hidup saya. 

"Though miles may lie between us, we are never far apart. For friendship doesn't count miles, it's measured by the heart"


Tertanda,

Come.. Come Twenty Five

Bulan depan, kira-kira satu setengah bulan lagi, suami saya berulang tahun. Ini adalah ulang tahun pertamanya yang akan dia rayakan bersama isteri (saya tentunya). Biasanya kan kami merayakannya sendiri-sendiri karena terpisah jarak. Saya sangat excited menunggu tanggal tersebut. Banyak sekali rencana-rencana yang sudah saya buat untuk merayakan ulang tahunnya yang menurut saya sangat spesial ini. Oya, bulan depan itu umur suami saya genap seperempat abad, makanya spesial sekali hehe.. Saking banyaknya rencana kejutan untuknya, saya jadi bingung rencana mana yang harus saya jalankan. Saya ingin semuanya serba fantastis, serba romantis, dan serba perfeksionis. Saya ingin ulang tahun pertamanya dengan saya ini terkenang selalu di kepalanya. Maklum, kami ini pengantin baru! Hihi..

*Rencana pertama : saya ingin memesan tempat di sebuah restoran yang romantis dengan iringan musik di dalamnya. Kemudian pelayan akan datang ke meja kami dan memberikan kado yang sudah saya siapkan plus kue ulang tahun yang tentu saja bukan buatan saya, karena saya sama sekali tidak bisa membuat kue tart. Hahaha..

*Rencana kedua : saya akan memasakkan makanan-makanan favoritnya yang tentu saja akan memakan banyak waktu dan resep. Secara saya adalah wanita yang baru saja belajar masak, pasti akan ribet sekali. Tapi tidak masalah sih, apapun akan saya lakukan untuk membahagiakan suami saya tercinta. Wuuuuusss..

*Rencana ketiga : saya ingin memberikan kejutan yang perannya bukan hanya saya saja tapi juga teman-teman dekatnya. Saya akan mengambil nomer-nomer HP mereka dari phone book suami saya, lalu saya SMS satu persatu. Tentu saja tetap ada acara makan-makan di dalamnya.

Sementara ini hanya ada tiga rencana yang ada di otak saya yang harus segera saya putuskan. Semuanya terkendala pada waktu. Semoga saja suami saya pada hari H-nya bekerja di shift 1, yaitu antara jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Atau pada shift 3, yaitu antara jam 10 malam sampai jam 10 pagi. Dan itu berarti saya harus bangun jam 3 pagi untuk mulai memasak.

Masalah rencana sudah di depan mata. Satu hal lagi yang saya bingungkan. Kira-kira kado apa yang harus saya berikan. Beberapa orang memberi saran supaya saya memberikan kado yang benar-benar dia suka dan menjadi hobinya. Tapi hobi suami saya itu bermain game sepakbola dan mengotak-atik motornya. Tahun-tahun kemarin saya memberinya jaket dan sepatu fantovel. Mungkin tahun ini saya akan memberinya bunga, kue tart, dan beberapa masakan kesukaannya.

Tapi apapun kadonya, suami saya pasti suka. Dia bukan tipe orang yang suka menyepelekan pemberian orang lain. Apalagi saya memberikan dengan ketulusan dan cinta. Hahaha.. Doakan saya yaaa :)

"When I tell you I love you, I don't say it out of habit or to make conversation. I say it to remind you that you are the best thing that ever happened to me"

Luv,