Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Wednesday, November 14, 2012

This is Aldrick


Hai.. Haiii.. Akhirnya Suntea mengudara lagi yaa.. Banyak yang baru nih! Status baru, profesi baru dan anggota keluarga baru..


This is my lovely baby boy, Aldrick Mesakh Pradipta Andi. Hidup baru saya, kerjaan baru saya, harapan baru saya, pokoknya semua yang baru-baru dan yang baik-baik langsung muncul begitu Aldrick lahir.


Dan ini adalah pertama kalinya aku gendong Aldrick. Pengen nangis lho..beneran! Gimana gak terharu coba? Sesuatu yang dulu ada di perutku, sekarang ada di pangkuanku. So sweeeeeett banget :)


Kalo yang ini adalah Aldrick yang sekarang. Narsis,tanggap kamera, murah senyum dan lagi heboh-hebohnya bikin rusuh. Ganteng kan?


Well.. Itu tadi anggota baru di keluarga kami. Aldrick yang bikin aku semangat. Aldrick yang bikin aku harus selalu sehat. Aldrick yang bikin aku ketawa plus nangis di waktu yang hampir bersamaan. Aldrick yang bikin semuanya well done. Terimakasih Tuhan.. Aku pastikan bahwa titipanMu akan baik-baik saja :)


Bogor, 14 November 2012

Monday, February 13, 2012

Pertanyaan di Lintasan



Ketika hidup seperti sedang berlari melintasi lintasan yang panjang, sementara terik matahari terasa membakar sampai ke punggung belakang, peluh yang jatuh menganak sungai berpadu dengan sepasang kaki yang kelelahan, sepasang mata seolah tak sabar menyambut secercah sinar yang menjadi muara tujuan. Secarik garis yang tipis namun menjadi penanda bahwa kita telah sampai. Titik sederhana dimana kita menuntaskan satu babak perjuangan, dengan perasaan meluap yang sulit dilukiskan. Bagus bila kita sekaligus menjadi pemenang, namun bila tidak, paling tidak kita tahu kapan dan dimana langkah seharusnya diberhentikan.

Kita paham benar, di sudut mana akhir petualangan ini akan kita tambatkan. Pada sebuah pijakan yang terus menerus kita ucapkan agar menjelma menjadi pasokan nafas bila nanti nyaris kehabisan. Agar langkahnya terpacu menjadi semakin lebar dan temponya berirama lebih cepat. Tak dipungkiri, terkadang kita dibuat terengah-engah memang, sesekali pula kita perlu merapikan semangat yang mulai kendur karena direndam dalam satu baskom besar air mata semalaman.

Mencuat urat di samping leher sisi kiri saat sesekali kamu berlari sambil meneriakkan isi hati, apa mungkin kita akan sampai suatu saat nanti? Alis matamu membentuk garis turun, suaramu bergetar, langkahmu melemah. Dan aku, kondisiku tak juga lebih baik. Jantungku mulai malas-malasan, berdetak sesuka-sukanya, itu pun bila mau. Lalu ini, apa kau lihat ini yang membasahiku? Tadinya kupikir hujan yang mengguyur tubuhku, tapi ternyata itu keringat yang dingin membanjiri dan terasa asin. Sementara air mataku sudah habis, kuputuskan tak akan menangis kecuali nanti setiba di garis finish.

Apa mungkin kita akan sampai? Ah, pertanyaan macam apa itu, sayang.

Meski panjang lintasan sudah Dia sebutkan, namun rasanya toh tetap akan berbeda setiap kali kita mencoba. Bergantung pada ketetapan hati, kemampuan tempa jiwa, pun kesiapan raga. Disaat lain ketika kita mencoba dengan hati goyah dan raga yang ringkih, lintasan terasa terlampau panjang, garis akhir tampak hanya semacam bualan. Lalu mungkin kita akan berhenti dipertengahan jalan, dengan kadar letih yang sekiranya sama saja dengan satu putaran lintasan.

Jangan terlalu terburu-buru melompat dan menyimpulkan. Tak ada yang mustahil bagi-Nya. Percayalah langkah kita akan lebih ringan bila kita ayunkan tanpa berpikir tentang ketidakmungkinan, jangan habiskan untuk berpikir tentang kesedihan di ujung lintasan. Bukan kuasa kita membuat ketetapan akhir perjuangan. Kamu tahu sayang, yang harus kita lakukan adalah terus berlari dan saling menguatkan.

Setiap kita kelelahan dan nyaris habis kekuatan, biarkan jemari yang berbeda ukuran dan permukaan saling bergandengan. Kaitan akan semakin kuat dengan genggaman. Tak apa, aku tak perlu menyalahkan pertanyaan. Wajar saja, terkadang sering pula muncul saat aku berkaca dan membaca benak peta perjalanan. Tak habis aku bersyukur karena waktu masih berbaik hati memberi kesempatan setiap kali kita nyaris menapaki gerbang keputusasaan. Memberi kelonggaran agar kita mencuri jeda untuk saling berpandang dan membiarkan dua pasang mata bebas bicara. Tentang satu-satunya persamaan yang kita punya dan kita sebut cinta. Tak akan pernah berhenti sampai benar-benar mati.

"Apa jadinya bila Colombus mencabut kembali sauhnya dan menggulung kembali layarnya karena sebuah pertanyaan yang sama dia ajukan pada awaknya saat ekspedisinya ke timur Asia. Mungkin sejarah dunia tak akan mencatat namanya sebagai penemu Amerika tahun 1492, kan sayang?"




Friday, October 28, 2011

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Melihat perkembangan anak muda jaman sekarang memang agak ngelus dada. Masa' ditanya isi Sumpah Pemuda pada nggak tau sih? Kebangetan banget kan. Apa di sekolahnya nggak ada pelajaran Sejarah? Atau siswanya yang selalu tidur saat pelajaran Sejarah? Saya juga tidak membenarkan diri saya sendiri. Dulu saya juga benci pelajaran Sejarah, karena saya diharuskan menghafal dan saya tidak punya daya ingat yang bagus dalam menghafal. Tapi setidaknya ada satu dua hal yang masih nyantol di otak saya, termasuk isi dari Sumpah Pemuda. 
Kemarin saya melihat sebuah acara TV yang mengupas tentang Sumpah Pemuda dan pemuda jaman sekarang. Yang tentu saja bagi saya percuma saja. Toh pemuda jaman sekarang merasa tidak punya korelasi antara Sumpah Pemuda dan diri mereka. Bintang tamu pada acara tersebut berkata bahwa cinta Indonesia tidak perlu ditunjukkan dengan atribut-atribut yang kita gunakan. Cinta Indonesia ditunjukkan dengan apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia. Dari situ saya berpikir, saya belum menunjukkan cinta saya pada bumi yang saya pijak sejak 23 tahun yang lalu. Bahkan kadang saya cenderung malu dengan negara saya sendiri, dengan ulah para pemimpin bangsa yang katanya membawa amanah rakyat. Seharusnya cinta Indonesia bisa saya tanamkan pada diri saya tanpa melihat perbuatan orang lain. 
Yang membuat saya tambah miris adalah hari Sumpah Pemuda diwarnai dengan aksi demonstrasi mahasiswa yang menurut saya tidak masuk akal. Mereka menuntut kepemimpinan SBY-Boediono yang menurut mereka gagal total. Kalau mereka jadi Presiden, apakah mereka bisa melakukan perubahan-perubahan yang lebih baik? Saya tidak yakin! Seandainya saya punya perusahaan, akan saya blacklist wajah-wajah demonstran itu, supaya mereka tidak bisa masuk ke perusahaan saya. Mereka kan cuma bisa protes.
Tapi saya juga tidak membenarkan pak Presiden. Saya tidak peduli dengan reshuffle kabinet. Saya tidak peduli dengan para koruptor yang semakin meraja lela. Yang seharusnya pak Presiden pikirkan adalah mereka yang masih sulit sekolah karena masalah kemiskinan. Adalah mereka yang tinggal di perbatasan Indonesia - Malaysia, yang hidup jauh dibawah kata miskin. Adalah mereka yang masih mengalami krisis pangan dan kelaparan padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris. 

Faktanya adalah bangsa yang pernah menjadi macan Asia Tenggara ini kehilangan taringnya!

Lalu bagaimana dengan pemudanya? Bangsa yang besar ada di tangan pemuda!

Selamat hari Sumpah Pemuda. Tuhan memberkati Indonesia :)


Saturday, October 22, 2011

Saya Rindu Mama

Saya selalu merindukan mama saya. Caranya berjalan, caranya tidur, caranya makan, semua seperti mengendap di otak saya. Saya hafal semua tentang mama saya. Bau parfumnya pun kadang berkelebat di hidung saya.




Saya membutuhkan mama saya. Saya ingin selalu berada di dekatnya, membahagiakannya, menemaninya kemanapun dia pergi, dan mentraktir empal gepuk favoritnya. Saya sungguh-sungguh merindukannya. Hampir tiap malam saya berharap mama saya ada di sebelah saya, menemani tidur saya, bercerita tentang tetangga-tetangga yang aneh, dan tertawa pelan-pelan supaya papa saya tidak tahu kalau dia sedang jadi bahan lelucon kami. Bahkan saya merindukan ceramah akbar ala mama saya ketika saya pulang larut malam atau ketika kata-kata yang tidak sopan keluar dari mulut saya. Saya ingin selalu menjaga mama, mengusap air matanya saat adik saya melukai hatinya, mengoles punggungnya dengan minyak ponari saat angin yang tidak sopan masuk ke tubuh mama, menunggu mama pulang dari arisan, mengantar mama belanja ke Pasar Beringharjo, dan mengajak mama ke Pantai Parang Tritis menikmati sunset dan bermain air sampai lupa waktu.

Mama sangat kuat. Tak ada yang bisa mematahkan semangatnya, tak ada yang bisa menumbangkan keberaniannya, tak ada yang bisa menyurutkan langkahnya. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, dia masih lincah bergerak kesana kemari. Menjadi pengurus RW, mengambilkan pensiun eyang lalu mengantarnya ke kaki gunung merapi, tidak pernah absen datang doa malam, dan tidak pernah bilang tidak jika ada temannya yang membutuhkan bantuannya sekalipun rumah temannya itu berkilo-kilo jauhnya.

Mama sangat pemaaf. Tidak pernah menyimpan kesalahan orang lain, mendoakan orang-orang yang sudah menyakiti hatinya, dan selalu rajin memaksa saya untuk bisa memaafkan orang-orang yang sudah menyakiti saya. Mama sangat tabah menghadapi apapun. Dia tidak pernah mengeluh sekalipun dia sudah tidak mampu berdiri. 

Saya ingin seperti mama, kuat, tangguh, tabah, pemaaf, sabar, dan selalu dirindukan kehadirannya oleh anaknya. Saya ingin seperti mama, tidak ada kata menyerah menghadapi apapun. Saya ingin seperti mama, mengandalkan Tuhan sepenuhnya dalam kehidupannya. Saya ingin seperti mama, kadang menjadi guru, kadang menjadi sahabat yang baik, dan kadang menjadi pelawak. Hehe..

Kelak ketika saya punya anak, saya ingin anak saya seperti mama. Akan saya ceritakan semua kebaikan eyangnya, dan betapa kagumnya saya padanya.

Saya merindukan mama.. *hug


your girl,

Aku Terpaksa Menikahinya


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. 

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


DIKUTIP DARI :http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Monday, October 17, 2011

5 Minggu 3 Hari

Saat ini usia kandungan saya sudah 5 minggu 4 hari. Banyak sekali kejadian-kejadian menarik selama 5 minggu itu. Awalnya saya tidak menyadari keberadaan kandungan saya karena memang tidak ada tanda-tanda khusus. Saya menyadarinya ketika saya sudah terlambat haid 5 hari. padahal dalam sebulan kemarin saya banyak melakukan aktivitas fisik yang berat. Saya naik wahana-wahana yang menggoncang perut saya di Ancol, saya naik motor kemana-mana dengan suami saya yang notabene suka sekali kebut-kebutan, dan yang terakhir saya terpental di lantai dengan cantiknya. Tapi semuanya muzizat. Saya dan janin saya sehat.

Saya akan bercerita sedikit tentang tanda-tanda kehamilan saya. Awalnya perut saya rasanya seperti akan mens. Kram, keras, dan agak sakit. Payudara saya (maaf) juga terasa sangat keras dan sakit. Saya pikir karena hentakan di lantai yang sangat keras membuat mens saya telat. Tapi setelah saya tunggu selama 5 hari, mens saya tidak juga datang. Say membeli testpack dengan merk yang paling bagus, lalu saya tes pagi-pagi. Hasilnya sungguh membuat mata saya seperti mau loncat keluar.

Tanda-tanda lain yang mengikuti awal kehamilan saya adalah jerawat dimana-mana, gusi agak sedikit bermasalah, lemas, dan ngantuk. Puji Tuhan sampai saat ini saya belum ngidam, mual, dan muntah. Kadang-kadang perut bagian bawah juga agak kram. Tapi apapun yang terjadi di keesokan hari, membuat saya excited. Saya tidak sabar menunggu gejala-gejala lain yang akan dialami oleh para wanita hamil. Yang saya minta, saya diberi kekuatan, kesabaran, dan kemampuan meredam emosi. Saya ingin mempunyai anak yang manis, tidak mudah marah, sabar, dan pemaaf. 

Oya, kalau soal makanan, tidak ada kata ngirit lagi. Saya beli semua jenis buah, kecuali durian, salak, dan nanas. Saya makan semua jenis sayur terutama brokoli, kembang kol, bayam, kentang, dan wortel. Saya juga masak semua jenis kacang-kacangan yang katanya mengandung banyak nutrisi. Saya ingin menjauhkan janin saya dari obat-obatan, maka dari itu saya masukkan semua makanan yang alami (yang walaupun saya tidak suka) ke dalam mulut saya. Semua demi janin yang ada di dalam perut saya. Saya juga menghindari makanan yang belum matang atau setengah matang, junkfood, dan makanan instan. Padahal itu adalah makanan-makanan yang sangat saya sukai. Pokoknya demi bayi yang sehat, lincah, dan cerdas, saya kalahkan ego saya. Saya juga rajin minum air putih (minimal 8 gelas sehari), susu (2 kali sehari), jus buah dan jus sayur setiap hari. Mumpung saya belum merasakan mual, dan semoga saja tidak merasakannya.

Kehamilan pertama saya ini membuat saya sedikit agak tegang dan khawatir. Apalagi saya jauh dari mama. Saya hanya mengandalkan buku-buku dan informasi dari teman-teman saya yang sedang hamil juga. Tentu saja saya andalkan Tuhan, itu yang paling penting. Doa saya, saya selalu sehat, tidak menyusahkan suami, tetap mandiri, dan semakin bertanggung jawab dengan semua hal yang sudah Tuhan kasih dalam hidup saya. 


"A baby is something you carry inside you for nine months, in your arms for three years, and in your heart till the day you die"

Mimpi Terindah TOFU

Melayang aku

Kau buatku terbang tinggi di awan

Terhanyut aku setiap kudengar syair cintamu
Nyatakah semua yang terjadi pada setiap hariku

Ku terhanyut

Saat kau berjanji

Dan kau (ku) wujudkan mimpi yang terindah

di setiap malam

Agar aku (kau pun) tersenyum

Terjaga dari tidurku (tidurmu)

Dan kau jadikanku ratu di kerajaan cintamu

Agar aku pun bahagia

Duduk berdua denganmu selamanya

Ooh.. selamanya kau rasakan indah hari

dengan kasihku

Selalu tersenyum dirimu oh kasih cintaku

Selalu selamanya

Sunday, October 16, 2011

I Lend This Child to You

Aku akan pinjamkan bagimu untuk sesaat
Seorang anak milikKu, kataNya
Untuk kau cintai semasa ia hidup
Dan untuk ditangisi saat ia meninggal
Mungkin selama enam atau tujuh tahun
Atau dua puluh dua atau tiga
Tapi maukah kau --sampai Aku memanggilnya pulang -- menjaganya untukKu?
Maukah engkau memberikan padanya seluruh kasihmu?
Tanpa berpikir pekerjaan itu sia-sia
Atau membenciKu saat Aku datang memanggil -- untuk mengambilnya kembali?

Pernah dengar puisi di atas? Cuplikan puisi di atas adalah karya Edgar A. Guest yang judulnya I Lend This Child to You. 

Saya suka sekali dengan puisi di atas. Puisi ini mencelikkan mata saya bahwa semua yang saya miliki saat ini adalah milikNya, pinjaman dariNya. Termasuk anak-anak yang nantinya akan Tuhan titipkan pada saya. Mereka milik Tuhan dan suatu saat harus dikembalikan kepada pemilikNya. Nah, sebagai orang yang dipinjami, apa yang seharusnya saya lakukan?
Lebih besar tanggung jawabnya dari pada ketika kita meminjam buku atau kaset CD. Kita harus menjaganya, menyayanginya, melindunginya, memimpinnya, mengarahkannya., dan tentu saja tujuannya agar anak-anak kita kelak mengenalNya dan dekat pada Sang Empunya hidupNya.

Tidak saya pungkiri, hal-hal diatas bukan hal yang mudah. Tanggung jawab kita sangat besar. Saya tidak ingin ketika nanti Tuhan memintanya kembali, tidak Tuhan temukan tanggungjawab pada diri saya. Saya ingin jadi ibu, sahabat, dan pelindung untuk anak-anak saya kelak. Saya ingin jadi penjaga iman mereka. Saya ingin jadi guru untuk mereka. Saya ingin jadi yang terbaik untuk mereka. Dan takut akan Tuhanlah yang akan saya tekankan pada mereka.

Terimakasih Tuhan untuk kado terindah ini. Akan saya jaga untuk KemuliaanMu.


Welcome to mom's life,

Monday, October 10, 2011

Papaku Anugerah Tuhan

Pernahkah kalian berkhayal seandainya saja ayah atau ibu kalian bisa diganti dengan pria atau wanita lain? Tadi malam sebelum tidur saya sempat ngoceh di samping suami saya, andai ayah saya bisa ditukar dengan yang lain. Yang hasilnya adalah saya ngoceh sendiri seperti orang gila karena ternyata suami saya tidur pulas. Padahal saya mengharapkan tanggapan positif darinya.

Begini. Saya ini mewarisi ciri-ciri fisik yang hampir sama dengan papa saya, dan tidak munafik, kadang saya tidak menyukainya. Beberapa kali saya sempat berharap papa saya bisa ditukar dengan orang-orang yang pernah dekat dengan mama saya atau yang pernah saya lihat di sekeliling saya.

Contohnya :

  1. Pak Wahono (pacar pertama mama, sekarang majelis di salah satu GKJ di Jogja) ~ Kalau mama menikah dengannya, badan saya pasti tinggi dan seksi. Tapi hidung saya besar dan kulit saya hitam!
  2. Om Hendri (pacar kedua mama, tetangga eyang saya di Baciro) ~ Kalau yang ini, badan saya pasti tinggi dan putih. Tapi pasti gemuk dan saya suka ke dukun, mewarisi sifat ayah.
  3. Om Gaib (pacar ketiga mama, orang wonosari) ~ Kalau sama yang ini, badan saya pasti tinggi, putih, cantik dan kaya. Tapi sekarang status saya pasti anak yatim karena ditinggal ayah saya kabur ke Kalimantan gara-gara punya hutang ratusan juta.
  4. Om Yuyub (teman dekat mama, rumahnya dekat SMA saya) ~ Wah, tidak diragukan lagi. Saya pasti jadi perempuan yang sangan cantik, tinggi, dan kaya raya karena ayah saya adalah bendahara di kantor bupati Wonosari. Tapi status saya saat ini sudah pasti anak yatim. Kan ayah saya meninggal karena kanker buah zakar.
  5. Om Win (pacar keempat mama, orang Bandung) ~ Kalau mama menikah sama Om Win, saya jadi neng geulis, seksi, dan cantik. Tapi lagi-lagi saya akan jadi anak yatim karena ayah saya ini lebih memilih untuk menceraikan mama saya dan menikah dengan pelacur yang sudah lama diselingkuhi olehnya!
Dan masih banyak pria-pria yang saya bayangkan menjadi ayah saya. Tentu saja agar saya menjadi lebih baik dalam segala hal. Tapi akhirnya selalu saja mengecewakan. Tidak ada yang seperti papa saya.

Setelah saya pikir-pikir lagi, saya ini jauh lebih beruntung dari pada anak pria-pria diatas. Tuhan memberi saya seorang ayah yang tidak suka ke dukun, tidak suka selingkuh, tidak berpenyakit aneh, dan tidak punya hutang. 

"The greatest gift I ever had, came from God. I call him DAD"


Your girl,

Sunday, October 9, 2011

Thank You for Your Friendship

Sudah tiga bulan saya tinggal di kota hujan. Artinya sudah tiga bulan juga saya tidak bertemu orang-orang terdekat dalam hidup saya. Memang aneh rasanya jika dalam waktu yang cukup lama mereka tidak ada di sisi saya, sementara beberapa kali saya rasakan kehadiran mereka memang sangat penting. Saya bukan orang yang dengan mudah bisa mencurahkan isi hati saya pada orang lain. Oleh karena itu campur tangan orang-orang yang entah kenapa tiba-tiba ada pertalian batin dengan saya itu terasa menyempurnakan kekurangan saya. Tidak saya pungkiri, suami saya juga merupakan tempat bercerita yang asyik. Dia pas mengisi kekosongan saya. Tapi bukan berarti saya tidak butuh sahabat-sahabat saya. Both of them are very important!
Lohan Njenong
*Sulastri a.k.a Lohan Njenong a.k.a Nonong ~ Dia mirip dengan saya. Sama-sama berbadan kecil, sama-sama berambut panjang rebondingan, sama-sama berkulit sawo matang, sama-sama suka warna hitam dan putih, sama-sama suka shopping, dan sama-sama suka foto-foto narsis. Saya mengaguminya, sangat. Dia perempuan single berusia 24 tahun, dewasa, tenang, ramah, dan sangat baik hati. Tidak pernah saya lihat dia berkonfrontasi dengan orang lain. Saya sangat berharap dia bisa segera melepas masa lajangnya dan bisa merasakan kebahagiaan yang saat ini saya rasakan.
Pricilla Yunika Kurniawati
*Pricilla Yunika Kurniawati a.k.a Unique ~ Badannya bongsornya selalu membuat kami terlihat seperti ibu dan anak. Rambutnya panjang rebondingan bercat cokelat, kulitnya agak sedikit lebih hitam dari saya. Dia suka sekali dandan, kemanapun dan dimanapun. Dia suka dengan sesuatu yang berkesan menonjol atau norak hehe.. Dia suka shopping, mie ayam, makan tanpa sendok, menghabiskan daging ayam sampai ke tulang-tulangnya, dan bercita-cita menikah dengan seorang musisi. Dia ini perempuan yang dewasa, bijaksana, problem solver, dan tangguh. Bulan September kemarin dia resmi dilamar, dan akan segera melangsungkan pernikahan pada bulan Juli tahun 2012. Semoga segera terwujud!
Riena Dwi Dharmawati
*Riena Dwi Dharmawati a.k.a Ririn ~ Sebenarnya kami ini saudara sepupu. Dia anak dari Om saya. Kami sangat dekat. Banyak hal yang selalu kami lakukan bersama-sama. Ke salon, makan cokelat, window shopping, nonton film horor, dan tidur bersama. Ririn adalah perempuan yang melow, pendiam, sayang pacar (sayang sekali lho), pintar bermain musik, dan pendengar yang baik. Saat ini dia sedang menyelesaikan skripsinya. Semangat ya Sis! I always pray for you :)
Emrenciana Stacia Christy
*Emrenciana Stacia Christy a.k.a Cico ~ Kami sama-sama suka bicara keras-keras, tertawa keras-keras, dan bergosip keras-keras. Pegawai pertamina ini dulu kakak rohani saya. Dia yang menguatkan iman saya, yang membimbing saya agar tidak melenceng dari jalanNya. Dia suka sekali dengan yang namanya shopping, nongkrong, dan poto-poto narsis. Cico adalah perempuan yang sangat dewasa, pekerja keras, sangat sayang mama, alergi XXI, pecinta junk food, suka pakai wedges kemana-mana, suka termakan iklan, dan up-to-date sekali dalam dunia fashion. Katanya sih dia sedang fokus ke pekerjaan barunya, dan mengesampingkan urusan pacar. 

Florentine Febriyantica Christy
*Florentine Febriyantica Christy a.k.a Aik ~ Cico dan Aik adalah saudara kandung. Tapi mereka bedaaa sekali. Aik masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja mengambil jurusan Komunikasi. Hobinya sih sama dengan adiknya, Cico. Tapi soal sifat, mereka bagaikan minyak dengan air. Aik sangat cuek, tenang, lebih pendiam, suka dengan kegiatan yang cewek banget contohnya menjahit dan merajut, rambutnya lurus panjang, dan pintar sekali memasak. Cepat lulus dong bu, biar cepat kerja terus merit deh!

Banyak sekali kenangan saya bersama mereka. Dan jika nanti suatu saat saya pulang ke Jogja, akan saya kumpulkan lagi kepingan-kepingan pelengkap hidup saya. 

"Though miles may lie between us, we are never far apart. For friendship doesn't count miles, it's measured by the heart"


Tertanda,

Come.. Come Twenty Five

Bulan depan, kira-kira satu setengah bulan lagi, suami saya berulang tahun. Ini adalah ulang tahun pertamanya yang akan dia rayakan bersama isteri (saya tentunya). Biasanya kan kami merayakannya sendiri-sendiri karena terpisah jarak. Saya sangat excited menunggu tanggal tersebut. Banyak sekali rencana-rencana yang sudah saya buat untuk merayakan ulang tahunnya yang menurut saya sangat spesial ini. Oya, bulan depan itu umur suami saya genap seperempat abad, makanya spesial sekali hehe.. Saking banyaknya rencana kejutan untuknya, saya jadi bingung rencana mana yang harus saya jalankan. Saya ingin semuanya serba fantastis, serba romantis, dan serba perfeksionis. Saya ingin ulang tahun pertamanya dengan saya ini terkenang selalu di kepalanya. Maklum, kami ini pengantin baru! Hihi..

*Rencana pertama : saya ingin memesan tempat di sebuah restoran yang romantis dengan iringan musik di dalamnya. Kemudian pelayan akan datang ke meja kami dan memberikan kado yang sudah saya siapkan plus kue ulang tahun yang tentu saja bukan buatan saya, karena saya sama sekali tidak bisa membuat kue tart. Hahaha..

*Rencana kedua : saya akan memasakkan makanan-makanan favoritnya yang tentu saja akan memakan banyak waktu dan resep. Secara saya adalah wanita yang baru saja belajar masak, pasti akan ribet sekali. Tapi tidak masalah sih, apapun akan saya lakukan untuk membahagiakan suami saya tercinta. Wuuuuusss..

*Rencana ketiga : saya ingin memberikan kejutan yang perannya bukan hanya saya saja tapi juga teman-teman dekatnya. Saya akan mengambil nomer-nomer HP mereka dari phone book suami saya, lalu saya SMS satu persatu. Tentu saja tetap ada acara makan-makan di dalamnya.

Sementara ini hanya ada tiga rencana yang ada di otak saya yang harus segera saya putuskan. Semuanya terkendala pada waktu. Semoga saja suami saya pada hari H-nya bekerja di shift 1, yaitu antara jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Atau pada shift 3, yaitu antara jam 10 malam sampai jam 10 pagi. Dan itu berarti saya harus bangun jam 3 pagi untuk mulai memasak.

Masalah rencana sudah di depan mata. Satu hal lagi yang saya bingungkan. Kira-kira kado apa yang harus saya berikan. Beberapa orang memberi saran supaya saya memberikan kado yang benar-benar dia suka dan menjadi hobinya. Tapi hobi suami saya itu bermain game sepakbola dan mengotak-atik motornya. Tahun-tahun kemarin saya memberinya jaket dan sepatu fantovel. Mungkin tahun ini saya akan memberinya bunga, kue tart, dan beberapa masakan kesukaannya.

Tapi apapun kadonya, suami saya pasti suka. Dia bukan tipe orang yang suka menyepelekan pemberian orang lain. Apalagi saya memberikan dengan ketulusan dan cinta. Hahaha.. Doakan saya yaaa :)

"When I tell you I love you, I don't say it out of habit or to make conversation. I say it to remind you that you are the best thing that ever happened to me"

Luv,


Thursday, October 6, 2011

Nasi Goreng Cinta

Saya dan suami sudah menikah kurang lebih 3 bulan. Kata orang sih lagi mesra-mesranya. Tapi memang iya lho. Saya suka sekali membuat kejutan untuk suami saya, yang tentu saja dengan harapan suami saya semakin jatuh cinta pada saya. 

Hari ini saya membuatkannya Nasi Goreng tapi full dengan Cinta. Dan beginilah hasilnya hahaha..






Selamat menikmati ya, sayang. Aku membuatnya dengan bumbu cinta dan kasih yang tidak hanya akan memuaskan rasa laparmu, tapi juga memuaskan hatimu. I love you, my hubby :)

"My love for you is a journey; starting at forever and ending at never"

Dimana-mana Bintang

Karena efek dari seringnya mati lampu, maka saya dan suami memutuskan untuk membeli tempelan dinding yang berfosfor. Apa ya namanya? Yang bentuknya bintang-bintang itu lho hehe..


















Bintang-bintang ini saya beli di Stasiun Kota Jakarta. Bukan sengaja kesana sih, pas lewat saja. Karena saya malas memasang sendiri, saya memaksa suami saya yang sedang asyik ngegame untuk memasang bersama saya hahaha..

































Dan di bawah ini adalah hasil dari kerja sama kami, yang tentu saja disertai dengan paksaan.





























Jadi mulai hari ini akan ada bintang-bintang yang menemani tidur saya, terutama jika suami saya bekerja pada tengah malam dan mengharuskan saya tidur sendiri.

"I have nothing with any certainty but the sight of stars makes me dream"