Saturday, November 12, 2011

Apa Jadinya Kalau Tidak Ada Nenek?

Saya mempunyai seorang tetangga yang sangat berkesan buat saya. Umurnya sekitar 40 menjelang 50, mempunyai dua orang anak, yang nomer satu sudah menikah dan tinggal di Cikotok, dan sang adik sedang menyelesaikan pendidikan D3 kebidanan di sebuah universitas di Bogor. Kedua anaknya adalah wanita.

Kami, para tetangganya, memanggil ibu ini dengan sebutan nenek. Nama aslinya Bu Adang. Wajahnya masih belum terlalu dihiasi banyak kerut sih, tapi karena anak-anak di sekitar rumah memanggilnya nenek, kami pun yang sudah dewasa ikut-ikutan memanggil beliau nenek.

Di sebelah rumah nenek ada seorang ibu, single parent, yang mempunyai dua anak. Namanya Bu Nyai. Bu Nyai ini tinggal dengan anaknya yang nomer dua, laki-laki bernama Bakti. Bakti berusia 4 tahun. Tentu berat ya hidup sendiri tanpa suami. Bu Nyai rajin sekali. Dia buka usaha pembuatan roti kering dan roti basah. Selain itu setiap pagi dia berjualan nasi uduk di teras depan rumahnya. Masakannya enak lho!

Bu Nyai dan nenek punya hubungan keluarga. Suaminya Bu Nyai adalah keponakan dari Kakek (Pak Adang). Nenek-lah yang membantu Bu Nyai dalam segala hal, mengurus Bakti, membantu memasak makanan yang akan Bu Nyai jual setiap paginya, membantu membereskan barang-barang yang digunakan untuk berjualan di pagi hari, menemani Bu Nyai belanja ke pasar, dan masih banyak lagi bantuan-bantuan nenek untuk Bu Nyai. Tapi tidak pernah sedikit pun saya lihat kekesalan di wajahnya. Yang memancar dari wajahnya hanyalah ketulusan. Saat kami duduk bersama, tidak pernah sedikitpun ada kalimat keluhan keluar dari mulut nenek. Bahkan tidak pernah sedikit pun beliau menjelek-jelekkan orang lain.

Hal ini tidak hanya dilakukan pada Bu Nyai dan Bakti. Pada tetangganya yang lain pun beliau selalu baik, selalu tulus dalam melakukan sesuatu. Saya ini wanita yang ceroboh dan pelupa. Kadang saya lupa kalau saya punya jemuran di luar. Padahal Bogor adalah kota hujan. Hampir setiap jam 2 siang, Bogor hujan. Nenek-lah yang mengangkat jemuran saya dan melipatnya dengan rapi. Hal ini dilakukan hampir setiap kali saya mencuci. Bukannya saya mengandalkan beliau, tapi ketika hari sudah mulai mendung, saya pasti masih enak-enaknya tidur. Tahu-tahu sudah hujan deras sekali. Kadang saya merasa tidak enak pada nenek. Apa jadinya kalau tidak ada beliau? Nenek juga rajin berteriak-teriak memanggil nama saya karena seharian saya tidak keluar rumah. Kata nenek, nenek khawatir jangan-jangan saya sakit. Bahkan disaat saya hamil, beliau sering bertanya pada saya, saya mau dibuatkan makanan apa. Haduh..masih banyak deh bentuk perhatian beliau yang lainnya. 

Saya salut sama nenek. Nenek selalu bisa bersikap baik dengan semua orang, sekalipun orang itu baru saja dikenalnya. Nenek selalu bisa bersikap tulus tanpa pamrih pada semua orang yang dia tolong. Saya ingin seperti beliau, hatinya, sikapnya, perhatiannya. 

Nek, jangan kapok ya punya tetangga seperti saya yang pelupa dan ceroboh. Semoga di masa tuamu, Tuhan memberkati engkau berlimpah-limpah, melingkupi engkau dengan damai sejahtera dan sukacita, serta memberikan kesehatan dan umur panjang.

Monday, November 7, 2011

8 Minggu yang Melelahkan

Beberapa hari ini saya memang malas sekali menulis. Bukan karena sudah bosan dengan blog saya tapi gangguan perut saya yang membuat saya susah untuk duduk berlama - lama. Ini pun masih sedikit malas - malasan. Tapi karena saya melihat kondisi blog saya yang tak terurus, saya membulatkan tekad untuk menghadap letti.

Kehamilan saya menginjak 8 minggu. Mmm.. Kalau tidak salah hitung lho! Soalnya saya orang yang paling malas kalau disuruh menghitung hari. Dan ini lagi parah-parahnya. Tiap hari saya muntah dari pagi sampai malam. Ini yang membuat saya tidak enak makan sama sekali. Tapi tetap saya paksa. Saya tidak boleh egois. Sekarang di dalam tubuh saya ada nyawa yang harus saya pertanggungjawabkan jika terjadi sesuatu. Maka dari itu, mual atau tidak, saya tetap harus makan. Kata mama, makannya nggak perlu banyak, tapi usahakan sesering mungkin. Saya juga jadi rajin makan buah dan sayur. Mulai dari mangga muda, jambu asem, sampai pepaya yang super manis. Bahkan yang awalnya saya kurang suka sayuran, sekarang saya lahap semua tanpa pilih-pilih. Contohnya wortel. Entah kenapa saya tidak suka dengan makanan kelinci ini. Tapi tetap saya makan supaya penglihatan anak saya bagus, tidak perlu memakai kacamata seperti ayah ibunya hehe..

Yang membuat saya kesal adalah saat mual saya sedang parah-parahnya, ada saja makanan enak di depan saya. Contohnya kejadian kemarin. Suami saya dan teman-temannya sengaja urunan uang untuk membeli seekor kambing dalam rangka ikut menyemarakkan Idul Adha. Kambing itu dipotong sendiri di rumah Mas Iskak, salah satu senior suami saya. Daging kambing itu ada yang di sate, ada juga yang di tongseng. Begitu saya sampai di rumah Mas Iskak, bau aroma sate kambing langsung menusuk hidung saya. Mulut saya sudah menganga seperti lele kehabisan udara, tapi perut saya berteriak NO NO NO NO NOOOO. Alhasil saya cuma makan sate kira-kira empat tusuk. Haduh..nggak berasa sama sekali kan? Tapi ya sudahlah mau apa lagi. Mungkin baby saya alergi daging.

Oya, tips buat para ibu hamil yang sedang mual-mualnya. Recommended banget nih! Pagi-pagi sebelum kita mengangkat kepala kita dari bantal, makan biskuit dulu. Biar mualnya berkurang. Terbukti lho! 
Selamat menikmati berkat Tuhan yaaa.. :)