Jika suatu saat Tuhan bertanya pada saya, "Apa yang tidak kamu suka dari tubuhmu?". Dengan lantang saya akan menjawab, " Saya mencintai tubuh saya apa adanya." Dan itu berarti kebohongan publik, tapi akan membuat orang-orang bangga atas jawaban saya, mencintai saya dan menggilai saya (alay).
Bukan itu inti dari mensyukuri keberadaan kita, menurut saya lho. Mensyukuri keberadaan kita itu seperti ini.
Sejujurnya ada beberapa bagian tubuh saya yang kurang saya suka. Yang kalau bisa ingin saya hapus lalu saya gambar sesuai dengan keinginan saya. Here they are.
1. Hidung
Memang bukan cuma saya sendiri yang mempunyai hidung seperti ini. Artis pun ada yang senasib dengan saya, tapi mereka sedikit beruntung. Mereka punya banyak uang untuk membentuk hidung mereka seindah mungkin sesuai dengan harapan mereka.
Hidung saya tidak jelek-jelek amat koq. Tidak ada bulu hidung yang keluar, tidak ada kotoran (read : upil) yang menggantung di pintunya, tidak mendongak ke atas, tidak berkomedo yang berlebihan. Semuanya tampak normal. Hanya saja hidung saya terlalu mungil, agak kurang maju. Mungkin jika dilihat sepintas, saya seperti tidak punya hidung (nggak diiiiiinnnkk). Saya juga agak kesulitan memilih kacamata yang bisa menggantung di hidung saya. Suami saya pun tega-teganya meledek hidung saya. Hanya dengan sentuhan sih, tapi saya bisa merasakan ejekannya. Memang suami saya mempunyai hidung yang sedikit agak panjang.
Tapi, lelaki yang mempunyai hidung yang sedikit agak panjang itu menggilai saya habis-habisan. Dan akhirnya menikahi saya.
2. Kaki
Saya mempunyai dua kaki dan sepuluh jari kaki lengkap. Bulu kaki saya pun normal-normal saja, tidak panjang dan keriting. Kaki saya cukup indah jika mengenakan sepatu ber-hak tinggi. Tidak ada kotoran disela-sela kuku jari saya. Bersih sempurna.
Saya hanya ingin kaki saya agak sedikit lebih jenjang lagi dengan bentuk yang ramping dan putih mulus mempesona. Yang hanya dengan melihat kaki saya, pria-pria akan rela memberikan harta mereka untuk saya (matre). Suami saya memang tidak meledek saya seperti insiden hidung di atas, saya hanya merasa agak aneh jika berjalan di samping suami saya yang tingginya hampir 170 cm.
Tapi, lelaki yang tingginya hampir mencapai 170 cm itu, memberikan hati, jiwa dan raganya untuk saya.
3. Telinga
Apa ya sebutannya? Kalau bahasa jawanya "caplang". Caplang itu adalah keadaan dimana telinga anda seperti menantang Tuhan. Susah sekali mengaitkan sesuatu di telinga saya karena pasti akan segera terlepas lagi.
Saya mendambakan telinga yang normal pada umumnya. Dan lagi-lagi suami saya suka sekali meledek walaupun semua ledekannya hanya sebuah guyonan. Saya thu yang mana canda yang mana serius.
Tapi, lelaki yang hampir selalu meledek saya dengan guyonannya yang sukses membuat saya terbahak itu akhirnya luluh lantak di hadapan saya, dengan gadis yang berhidung berkaki dan bertelinga kurang sempurna (menurut saya sih).
Jadi, apa yang saya dapat dari perasaan yang tidak sempurna itu? Saya mendapatkan pria yang bisa menyempurnakan keberadaan saya, sekalipun saya tidak seseksi Olla Ramlan atau semontok Farah Quinn. Di matanya saya sempurna bertubi-tubi. Dalam hal ini, kejujuran = bersyukur hahaha :p
Bogor, 23 September 2011