Wednesday, September 28, 2011

I wish I could meet them dis Oct 5

Dulu ketika saya masih usia sekolah menengah pertama tingkat awal, banyak sekali boyband-boyband manca yang saya suka. Westlife, Nsync, Boyzone, Backstreet Boys, dan masih banyak lagi. Tapi satu yang membuat saya tergila-gila sampai saat ini. Westlife. I adore him so much. Saya sukses menghafalkan semua lagu-lagu mereka. Swear It Again adalah lagu favorit saya.

Nama Westlife terbentuk pada tahun 1998 dengan personil Shane Steven Filan, Mark Michael Patrick Feehily, Nicholas Bernard James Adam Byrne, Kian John Francis Egan, Bryan Nicholas McFadden. Tapi pada tanggal 9 Maret 2005, Bryan Nicholas McFadden memutuskan untuk keluar dari Westlife dengan alasan ingin menghabiskan sebagian besar waktunya dengan keluarga dan menjadi penyanyi solo. 

Dari kelima personil ini saya paling suka Nicholas Bernard James Adam Byrne, atau biasa dipanggil dengan Nicky. Dilahirkan di Dublin, 9 Oktober 1978, dengan nama Irlandia Naucal O'Byrne. Warna bola matanya yang biru yang membuat saya menggilainya habis-habisan. 

Saya pun sempat sedih ketika mengetahui anggota mereka berkurang, tapi tidak melunturkan rasa cinta saya pada Boyband Irlandia ini. Mereka tetap T.O.P.B.G.T buat saya. 

Ketika saya tahu pada tanggal 5 Oktober ini mereka akan menggelar konser di Tennis Indoor Senayan Jakarta, saya pun sangat excited. Saya berharap suami saya bisa off sehari untuk menonton boyband yang saya kagumi dengan sangat selama bertahun-tahun. Yah..paling tidak saya bisa ikut bernyanyi bersama mereka dan menunjukkan bahwa mereka patut bangga mempunya fans super setia seperti saya.

"I wish I could meet them dis Oct 5, God. Please.."


Bogor, 28 September 2011

Tuesday, September 27, 2011

Ketika Saya Sakit

Rejeki itu bentuknya bisa bermacam-macam, tergantung bagaimana kita melihat dan menyikapinya, begitu pula halnya dengan ujian. Orang naik pangkat, dapat jabatan tinggi, naik gaji dibilang rejeki. Padahal bisa jadi itu adalah ujian, bila lantas menyalah-artikan kedudukan, menyalah-gunakan jabatan, memboncengi status dengan segala hal yang bermuatan kepentingan pribadi. Terkadang memang sulit melihat dengan jernih, sekedar menempatkan posisi berdiri agar tak salah perspektif, lalu mengambil sikap bijak untuk mensyukuri rejeki atau ujian. Saya pun hampir salah, ketika mendapati diri jatuh sakit di tengah tanggung jawab saya melayani dan mendampingi suami.

Sejak dua bulan kemarin, saya memang harus hijrah ke kota seribu angkot, mendampingi suami saya bekerja disini. Mulai saat itu saya disibukkan dengan acara belajar memasak yang membabi buta. Sebenarnya permasalahannya buka pada masak babi buta tersebut. Perbedaan iklim, cuaca, udara, kondisi lingkungan dan tingkat kebersihan air lah yang mungkin patut bertanggung jawab atas penyakit saya. Tubuh saya sedang loading dalam beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Sejak kepindahan saya, sudah berkali-kali saya berpenyakit. Tentu saja jatuh sakit bukan hal yang diminta siapapun orangnya di dunia. Saya harus tega melihat suami saya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya saya lakukan. "Duh Gusti, kenapa ya mesti diare? Menjijikan!" Begitu protes saya pada Tuhan.

Ya. Awalnya saya menganggap serangkaian sakit saya ini sebagai ujian. Badan tidak enak, perut melilit tidak karuan, kepala cenat-cenut, pekerjaan terbengkalai, aktivitas terganggu. Lalu saya teringat dengan salah satu teman saya yang terkena penyakit Lupus, penyakit seribu wajah. Penyakit yang dokter sekalipun kesulitan untuk mendiagnosanya. Penyakit yang obatnya tidak bisa dengan mudah kita tebus begitu saja di apotik. Penyakit yang mengharuskan mereka hidup dengan pengobatan dalam kurun waktu hitungan tahun, tidak seperti diare atau maag, penyakit yang saat ini mengganggu saya. Mereka saja kuat, mereka saja tegar. Lha kok saya yang cuma dikasih diare dan maag saja mengeluh..

Bila memang sakit saya ini adalah ujian, maka ini hanya ujian kecil yang harus saya jalani. Ada ribuan ujian yang dihadapkan pada manusia dan itu ribuan kali lebih berat dari yang saya jalani. Saya sendiri lebih suka mensyukuri penyakit ini sebagai rejeki. Karena dengan begitu, saya lebih enteng menjalaninya. Suami dan mama saya pun menjadi lebih perhatian kepada saya. Hehe..

Pada akhirnya sama saja. Dalam sebuah ujian, selalu ada yang bisa direnungi dan dipelajari, agar masing-masing menjadi pribadi yang lebih baik lagi, baik akal maupun budi. Saya percaya dalam setiap ujian, Tuhan selalu punya maksud baik. 


Cheers,


Bogor, 27 September 2011

Sunday, September 25, 2011

Untuk Teratai yang Masih Disimpan Di Surga

Sore tadi saya menonton pentas tari balet di sebuah stasiun televisi swasta. Para penari cilik itu tampak lincah menari berlenggak-lenggok di atas panggung. Pemeran utamanya mengenakan kostum little bird, mengenakan baju balet yang lucu dengan bulu-bulu warna hijau.

Namun ada satu hal yang saya catat dengan huruf tebal saat pentas itu dimulai. Sebelum anak-anak lincah dengan baju burung itu muncul, terlebih dahulu muncul di awal dua orang anak yang dengan kostum warna-warni di bagian bawahnya dan memegang setangkai bunga cantik yang dipegang dengan kedua tangan. Mereka yang duduk di bangku penonton dan saya yang duduk memandangi televisi tampaknya sepakat, mengerti. Oooh, adik-adik itu yang kebagian peran sebagai bunga. Memang sepanjang pentas, saat burung-burung kecil itu menari lincah, berputar dan menggerakkan sayap kecilnya, dua tangkai bunga yang berdiri di depan tersebut hanya menggoyangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri. 

Saat saya sedang asyik memperhatikan si kembang goyang, teman saya yang juga sedang menonton program tersebut, spontan mengirim sms kepada saya. "Kasian ya bu itu yang dua cuma goyang-goyangin tangannya." "Ya tapi kalo nggak ada yang jadi bunga nggak keliatan kaya taman, Jeng, pentasnya." Saya membalas tak kalah spontannya. "Iya sih." Teman saya menyetujuinya.

Ya ya, peran kecil, peran pendukung, terkadang lantas berubah peran menjadi peran yang dikasihani karena dianggap tak ada dan tak penting. Coba sekarang dibalik, tanpa peran kecil itu, tanpa kembang goyang itu, apa mungkin pementasan itu sebaik dan sesukses itu pula. Apa burung-burung kecil berkostum bulu itu akan terlihat cukup cantik tanpa dua tangkai bunga yang "hanya" bergoyang ke kanan dan ke kiri. Peran sekecil apapun, tentu ada untuk memberi arti, asalkan kita mau menyadari.

Nanti, suatu saat, kalau teratai kecil saya pentas dan "hanya" kebagian peran jadi bunga yang bergoyang ditiup angin, dia akan melihat ibunya menjadi orang yang bertepuk tangan paling keras di barisan penonton. Akan saya katakan padanya "Peran kecil bukan berarti peran tanpa arti. Dia memberi nafas dalam pertunjukan, dia melengkapi, dia menyempurnakan. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani setiap peran yang diberikan dengan sebaik mungkin. Dan tentu saja dengan cinta. Bukan cuma di panggung pementasan, tapi juga di panggung kehidupan.

Bagi saya tentu Tuhan tak mungkin lupa menyematkan alasan atas kehadiran kita di dunia, dan sama sekali kita tak punya hak untuk mengecilkan atau membesarkan arti sebuah peran dengan mata yang tentu melihat dengan segala keterbatasan. Catatan ini saya tuliskan agar nanti tak lupa saya sampaikan.

Peluk dan Cium Ibu untuk Teratai yang Masih Disimpan Di Surga,



Bogor, 25 September 2011

Friday, September 23, 2011

Seperti Inilah Arti Teman

Memang tidak ada yang bisa dipaksakan dari sebuah ikatan pertemanan. Ketika kita tidak menemukan kecocokan tentu akan sulit dipaksakan, begitu juga sebaliknya, ketika kita merasa menemukan sebuah "klik" - anggaplah begitu kita menamakannya-, pastilah sangat sulit untuk mengingkari kecocokan. Seperti nada yang tetap terdengar seirama meskipun terbagi atas dua suara, seperti dua jemari yang berongga dan bergelombang namun tetap erat melekat saat saling menggenggam. Klop.

Hati kecil tak bisa bohong. Lihat saja. Ketika ia suka, ia akan merona, mekar seperti bunga. Ketika ia tidak suka dengan sendirinya ia membiru, berubah menjadi batu. Sesekali barangkali bisa menipu mereka, mengatakan iya sekalipun sebenarnya tidak, namun toh kita bahkan tak akan mampu menipu diri sendiri. Pasti jauh melegakan bila perasaan dibiarkan jujur. Dan bagi saya pertemanan adalah perasaan yang paling jujur.

Ada yang bilang, teman itu adalah partner untuk berbagi segala senang dan susah. Tentu saja begitu idealnya. Namun saya lebih suka menyederhanakannya menjadi satu kalimat yang mungkin akan terdengar lebih cynical, teman itu mereka yang tak akan bertanya kenapa, ketika kita datang hanya butuh "saja". Hehehe, saya tak sejahat itu kok. Bukan berarti juga saya lupa pada mereka ketika saya senang. Boleh deh, tanyakan dengan beberapa teman terdekat saya meskipun kami jarang saling mengupdate perkembangan terbaru beberapa persoalan, namun utnuk urusan yang significant dampaknya, kami akan saling memberitahu. Misal; ketika kami pacaran, ketika kami patah hati, ketika kami bingung

Semakin dewasa, saya rasa pertemanan juga mengambil peran yang semakin bijaksana, semakin mengerti bahwa kekariban bukan berarti menjadi "dekat" atas ukuran jarak, bukan berarti kemana-mana harus selalu bersama, bisa saja kita terpisah dan jarang bertemu. Namun kedekatan yang saya maksud adalah soal rasa yang jujur saat tersenyum dan membuka tangan, menerima bukan sebagai masalah ketika teman datang saat butuh "saja". Dan tak perlu meminta mereka untuk memperlakukan kita dengan cara yang sama, teman semestinya akan melakukan itu bahkan sebelum kita bertanya. 


Seperti inilah saya akan memperlakukanmu, temanku. Saya berjanji :)



Bogor, 24 September 2011


My Body isn't Delicious, God


Jika suatu saat Tuhan bertanya pada saya, "Apa yang tidak kamu suka dari tubuhmu?". Dengan lantang saya akan menjawab, " Saya mencintai tubuh saya apa adanya." Dan itu berarti kebohongan publik, tapi akan membuat orang-orang bangga atas jawaban saya, mencintai saya dan menggilai saya (alay).

Bukan itu inti dari mensyukuri keberadaan kita, menurut saya lho. Mensyukuri keberadaan kita itu seperti ini.

Sejujurnya ada beberapa bagian tubuh saya yang kurang saya suka. Yang kalau bisa ingin saya hapus lalu saya gambar sesuai dengan keinginan saya. Here they are.

1. Hidung

Memang bukan cuma saya sendiri yang mempunyai hidung seperti ini. Artis pun ada yang senasib dengan saya, tapi mereka sedikit beruntung. Mereka punya banyak uang untuk membentuk hidung mereka seindah mungkin sesuai dengan harapan mereka.
Hidung saya tidak jelek-jelek amat koq. Tidak ada bulu hidung yang keluar, tidak ada kotoran (read : upil) yang menggantung di pintunya, tidak mendongak ke atas, tidak berkomedo yang berlebihan. Semuanya tampak normal. Hanya saja hidung saya terlalu mungil, agak kurang maju. Mungkin jika dilihat sepintas, saya seperti tidak punya hidung (nggak diiiiiinnnkk). Saya juga agak kesulitan memilih kacamata yang bisa menggantung di hidung saya. Suami saya pun tega-teganya meledek hidung saya. Hanya dengan sentuhan sih, tapi saya bisa merasakan ejekannya. Memang suami saya mempunyai hidung yang sedikit agak panjang.
Tapi, lelaki yang mempunyai hidung yang sedikit agak panjang itu menggilai saya habis-habisan. Dan akhirnya menikahi saya.

2.  Kaki

Saya mempunyai dua kaki dan sepuluh jari kaki lengkap. Bulu kaki saya pun normal-normal saja, tidak panjang dan keriting. Kaki saya cukup indah jika mengenakan sepatu ber-hak tinggi. Tidak ada kotoran disela-sela kuku jari saya. Bersih sempurna.
Saya hanya ingin kaki saya agak sedikit lebih jenjang lagi dengan bentuk yang ramping dan putih mulus mempesona. Yang hanya dengan melihat kaki saya, pria-pria akan rela memberikan harta mereka untuk saya (matre). Suami saya memang tidak meledek saya seperti insiden hidung di atas, saya hanya merasa agak aneh jika berjalan di samping suami saya yang tingginya hampir 170 cm.
Tapi, lelaki yang tingginya hampir mencapai 170 cm itu, memberikan hati, jiwa dan raganya untuk saya.

3. Telinga

 Apa ya sebutannya? Kalau bahasa jawanya "caplang". Caplang itu adalah keadaan dimana telinga anda seperti menantang Tuhan. Susah sekali mengaitkan sesuatu di telinga saya karena pasti akan segera terlepas lagi.
Saya mendambakan telinga yang normal pada umumnya. Dan lagi-lagi suami saya suka sekali meledek walaupun semua ledekannya hanya sebuah guyonan. Saya thu yang mana canda yang mana serius.
Tapi, lelaki yang hampir selalu meledek saya dengan guyonannya yang sukses membuat saya terbahak itu akhirnya luluh lantak di hadapan saya, dengan gadis yang berhidung berkaki dan bertelinga kurang sempurna (menurut saya sih).

Jadi, apa yang saya dapat dari perasaan yang tidak sempurna itu? Saya mendapatkan pria yang bisa menyempurnakan keberadaan saya, sekalipun saya tidak seseksi Olla Ramlan atau semontok Farah Quinn. Di matanya saya sempurna bertubi-tubi.  Dalam hal ini, kejujuran = bersyukur hahaha :p



Bogor, 23 September 2011

Thursday, September 22, 2011

Menulis Lagi

Yay!

Akhirnya saya putuskan untuk membuat blog baru setelah blog yang lama sukses saya abaikan. Semoga yang ini lebih terawat lagi. Dan sebagai efek dari pembuatan blog ini, saya juga membuat akun twitter yang baru, karena yang lama sudah wassalam :D

Terimakasih buat suami dan sahabat-sahabat saya yang rajin menyuruh saya untuk merapikan tulisan-tulisan saya.


Bogor, 23 September 2011