Showing posts with label Trip. Show all posts
Showing posts with label Trip. Show all posts

Monday, February 13, 2012

Pertanyaan di Lintasan



Ketika hidup seperti sedang berlari melintasi lintasan yang panjang, sementara terik matahari terasa membakar sampai ke punggung belakang, peluh yang jatuh menganak sungai berpadu dengan sepasang kaki yang kelelahan, sepasang mata seolah tak sabar menyambut secercah sinar yang menjadi muara tujuan. Secarik garis yang tipis namun menjadi penanda bahwa kita telah sampai. Titik sederhana dimana kita menuntaskan satu babak perjuangan, dengan perasaan meluap yang sulit dilukiskan. Bagus bila kita sekaligus menjadi pemenang, namun bila tidak, paling tidak kita tahu kapan dan dimana langkah seharusnya diberhentikan.

Kita paham benar, di sudut mana akhir petualangan ini akan kita tambatkan. Pada sebuah pijakan yang terus menerus kita ucapkan agar menjelma menjadi pasokan nafas bila nanti nyaris kehabisan. Agar langkahnya terpacu menjadi semakin lebar dan temponya berirama lebih cepat. Tak dipungkiri, terkadang kita dibuat terengah-engah memang, sesekali pula kita perlu merapikan semangat yang mulai kendur karena direndam dalam satu baskom besar air mata semalaman.

Mencuat urat di samping leher sisi kiri saat sesekali kamu berlari sambil meneriakkan isi hati, apa mungkin kita akan sampai suatu saat nanti? Alis matamu membentuk garis turun, suaramu bergetar, langkahmu melemah. Dan aku, kondisiku tak juga lebih baik. Jantungku mulai malas-malasan, berdetak sesuka-sukanya, itu pun bila mau. Lalu ini, apa kau lihat ini yang membasahiku? Tadinya kupikir hujan yang mengguyur tubuhku, tapi ternyata itu keringat yang dingin membanjiri dan terasa asin. Sementara air mataku sudah habis, kuputuskan tak akan menangis kecuali nanti setiba di garis finish.

Apa mungkin kita akan sampai? Ah, pertanyaan macam apa itu, sayang.

Meski panjang lintasan sudah Dia sebutkan, namun rasanya toh tetap akan berbeda setiap kali kita mencoba. Bergantung pada ketetapan hati, kemampuan tempa jiwa, pun kesiapan raga. Disaat lain ketika kita mencoba dengan hati goyah dan raga yang ringkih, lintasan terasa terlampau panjang, garis akhir tampak hanya semacam bualan. Lalu mungkin kita akan berhenti dipertengahan jalan, dengan kadar letih yang sekiranya sama saja dengan satu putaran lintasan.

Jangan terlalu terburu-buru melompat dan menyimpulkan. Tak ada yang mustahil bagi-Nya. Percayalah langkah kita akan lebih ringan bila kita ayunkan tanpa berpikir tentang ketidakmungkinan, jangan habiskan untuk berpikir tentang kesedihan di ujung lintasan. Bukan kuasa kita membuat ketetapan akhir perjuangan. Kamu tahu sayang, yang harus kita lakukan adalah terus berlari dan saling menguatkan.

Setiap kita kelelahan dan nyaris habis kekuatan, biarkan jemari yang berbeda ukuran dan permukaan saling bergandengan. Kaitan akan semakin kuat dengan genggaman. Tak apa, aku tak perlu menyalahkan pertanyaan. Wajar saja, terkadang sering pula muncul saat aku berkaca dan membaca benak peta perjalanan. Tak habis aku bersyukur karena waktu masih berbaik hati memberi kesempatan setiap kali kita nyaris menapaki gerbang keputusasaan. Memberi kelonggaran agar kita mencuri jeda untuk saling berpandang dan membiarkan dua pasang mata bebas bicara. Tentang satu-satunya persamaan yang kita punya dan kita sebut cinta. Tak akan pernah berhenti sampai benar-benar mati.

"Apa jadinya bila Colombus mencabut kembali sauhnya dan menggulung kembali layarnya karena sebuah pertanyaan yang sama dia ajukan pada awaknya saat ekspedisinya ke timur Asia. Mungkin sejarah dunia tak akan mencatat namanya sebagai penemu Amerika tahun 1492, kan sayang?"




Friday, October 7, 2011

Burger oh Burger

Sejak tiga hari yang lalu saya dan suami kompak membayangkan makan burger. Mungkin karena kami sudah terlalu lama tidak keluar dari rumah kami yang jauh sekali dari kota. Jadi jarang sekali kami temukan makanan kota. Maka dari itu, kemarin sehabis kami mengambil motor di Stasiun Bogor, kami langsung meluncur ke restoran makanan cepat saji milik Amerika yang di depannya ada patung badut. Pertama kami mencoba ke counternya di daerah pajajaran. Aaaahh.. penuuuuuuuuuuhhhh! Lalu kami mencoba ke counternya di daerah jalan baru. Wah, saya kalap sekali. Pokoknya berasa di rumah sendiri deh. Tidak lupa saya abadikan gambar si burger yang malang tersebut! Hihi..


Dan beginilah ekspresi girang suami saya karena berhasil makan makanan kota!

"One must eat to live. Not live to eat"

Supir Dengan IQ Jongkok

Hari ini saya dan suami saya pergi ke Stasiun Bogor untuk mengambil kiriman motor dari Jogja. Kami berangkat kesana menggunakan angkutan kota (angkot).
Kali ini saya benar-benar dibuat kesal oleh angkot jurusan Leuwiliang-Bogor tersebut. Sepanjang jalan saya hanya menggerutu dan marah-marah tidak jelas.

Pertama, saya akan deskripsikan dulu tentang keadaan si angkot tersebut. Jika angkot itu diibaratkan benda milik saya, benda itu sudah saya letakkan di tempat sampah lalu saya bakar. Bukannya saya menghina, saya hanya mempertanyakan tanggung jawab sang pemilik. Angkot ini keadaannya sudah sangat mengenaskan. Tempat duduknya sobek-sobek, besinya berkarat, dan dashbornya sudah hilang entah kemana. Oya, satu lagi, jika kita duduk di depan bersama sang supir, kita HARUS menutup pintunya sak kayange alias sekuat tenaga kita. 

Kedua, saya deskripsikan tentang supirnya. Sang pemilik angkot tersebut tidak kalah anehnya dengan angkotnya. Begini penampilan fisiknya, lagi-lagi tidak bermaksud menghina. Tubuhnya sintal, kulit sawo matang hampir busuk, rambut cepak keriting, dan bibirnya tebal sekali alias dower. Saya tidak mempermasalahkan penampilan fisiknya, itu anugerah Tuhan. Yang aneh adalah perilakunya. Dia itu tidak bisa senyum, mulut selalu menganga, mata jelalatan kemana-mana (ciri khas supir angkot), mengendarai mobil seenak udelnya sendiri, dan dari mulutnya selalu keluar umpatan. 
Sang Supir dan Angkotnya
Huh, si supir angkot dengan nopol F 1938 *L ini sukses membuat hari saya berantakan karena kesal setengah hidup. Buat pak supir, saya doakan agar selalu sehat, selamat, dan laris manis. Amin.

"Danger and safety never take a holiday"

Selamat datang, Kawan

Saya : "Selamat datang di kota Bogor, kawan"
Jupie : "Akhirnya kita bertemu lagi ya"
Saya : "Bagaimana perjalananmu di kereta?"
Jupie : "Sangat menyebalkan. Aku didesak motor-motor besar di kanan kiriku. Lihat, badanku lecet-lecet"
Saya : "Maaf ya. Aku janji, saat nanti suamiku punya uang lebih, akan aku suruh dia membawa kamu ke tempat servis yang oke punya, supaya badanmu bisa mulus lagi"
Jupie : "Tak apa, santai saja. Toh suamimu nanti pasti akan rajin membersihkan lukaku untuk sementara"
Saya : "Oya, selamat menikmati kepadatan lalu lintas disini ya. Aku harap kamu sabar, jangan mudah terpancing emosi. Disini tidak seperti di Jogja, yang tidak banyak angkutan kota dan tidak pernah macet"
Jupie : "Iya, aku sudah merasakannya barusan. Beberapa kali emosiku dibuat melonjak oleh pengendara yang ngawur tidak tahu rambu lalu lintas. Aku juga kesal dengan pengendara-pengendara yang ugal-ugalan. Seperti jalan punya nenek moyangnya saja!"
Saya : "Hahaha.. Itu belum seberapa. Akan kamu temukan banyak hal yang kurang menyenangkan disini, tidak cuma seperti yang barusan. Yang penting kamu tidak seperti mereka. Kamu harus tetap menjaga keselamatan aku dan suamiku, seperti waktu di Jogja"
Jupie : "Mungkin akan ada sedikit adaptasi. Tapi aku janji, keselamatan kalianlah yang terpenting buatku. Lalu bagaimana denganmu? Oya, aku dengar kamu sering sakit. Tidak betahkah kamu disini?
Saya : "Sama sepertimu, tubuhku sedang beradaptasi dengan lingkungan"
Jupie : Tahukah kamu, aku sangat merindukan kalian. Kamu tidak mengatakan apa-apa ketika akan meninggalkanku. Aku hanya heran, kenapa bukan kamu yang duduk di punggungku"
Saya : "Maaf ya, acara pernikahan itu membuatku sedikit stress. Maaf! Kami juga sangat merindukanmu. Makanya kami sangat senang ketika tahu kamu akan segera kembali pada kami"
Jupie : "Aku juga senang sekali. Rasa sakit di kereta seketika hilang ketika aku melihat kalian. Jika aku manusia, aku pasti menangis dan memeluk kalian"
Saya : "Mulai sekarang, kamu akan kembali menemani kami menjelajah kota. Tapi kali ini, kita akan menjelajah kota Bogor dan sekitarnya. Semoga kamu betah tinggal bersama kami di kota yang baru ini"
Jupie : "Pasti"


















Patience is something you admire in the driver behind you and scorn in the one ahead.  ~Mac McCleary