Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Wednesday, November 14, 2012

This is Aldrick


Hai.. Haiii.. Akhirnya Suntea mengudara lagi yaa.. Banyak yang baru nih! Status baru, profesi baru dan anggota keluarga baru..


This is my lovely baby boy, Aldrick Mesakh Pradipta Andi. Hidup baru saya, kerjaan baru saya, harapan baru saya, pokoknya semua yang baru-baru dan yang baik-baik langsung muncul begitu Aldrick lahir.


Dan ini adalah pertama kalinya aku gendong Aldrick. Pengen nangis lho..beneran! Gimana gak terharu coba? Sesuatu yang dulu ada di perutku, sekarang ada di pangkuanku. So sweeeeeett banget :)


Kalo yang ini adalah Aldrick yang sekarang. Narsis,tanggap kamera, murah senyum dan lagi heboh-hebohnya bikin rusuh. Ganteng kan?


Well.. Itu tadi anggota baru di keluarga kami. Aldrick yang bikin aku semangat. Aldrick yang bikin aku harus selalu sehat. Aldrick yang bikin aku ketawa plus nangis di waktu yang hampir bersamaan. Aldrick yang bikin semuanya well done. Terimakasih Tuhan.. Aku pastikan bahwa titipanMu akan baik-baik saja :)


Bogor, 14 November 2012

Thursday, February 16, 2012

Kehamilanku dan Teman-Temanku

Horeeeeee.. Si dedek udah 22 minggu lho! Udah mulei nendang-nendang, bangunin emaknya pagi-pagi, ngabisin jatah makan bapaknya, bikin emaknya sesak napas, pokoknya udah ngegemesin banget. Kemarin pas 19 minggu, beratnya 500 gr! Berarti nggak sia-sia kan usaha emaknya ngelawan morning sickness yang menyebalkan? 

Mmm.. Untungnya di kehamilan yang pertama, aku nggak ngalami apa yang banyak dialami temen-temenku yang sekarang juga lagi pada hamil. Ada yang masih nggak doyan makan nasi, ada yang kulitnya gatal-gatal,ada yang kakinya bengkak, malahan ada yang kena plasenta previa. Plasenta previa tuh letak plasentanya abnormal ato berada di atas pinggir pembukaan. Kan harusnya plasenta ada di atas, biar si dedek bisa keluar. Tapi ini plasentanya nutupin jalan keluarnya si dedek. Bahayanya kalo si ibu pendarahan. Taruhannya bisa nyawa si dedek, bisa juga nyawa si ibu. Untuk kasus kaya' gini biasanya si ibu disarankan untuk bedrest, nggak boleh kecapekan. Tapi temen yang udah aku anggap kakak itu hebat lho! Udah hampir 6 bulan masih aman-aman aja. Sebelum ketahuan kalo dia kena plasenta previa, dia masih nyuci baju sendiri, ngangkat yang berat-berat, anter jemput anak sekolah naik angkot, kemana-mana ngangkot nggak tergantung sama suami. Semoga aman sampai persalinan, walaupun harus caesar. Yah..setidaknya kan dia udah pernah ngerasain lahiran normal, jadi caesar nggak jadi masalah. Tapi tetep aja ya, yang namanya ibu pasti pengennya melakukan tugas yang mulia, melahirkan buah hatinya lewat jalannya alias normal.

Tapi ada juga temenku yang dari hamil muda sampai sekarang masih aja keukeuh pengen caesar. Alasannya karena dia parno ngeliat ibu-ibu yang lahiran normal. Maklum, dia kan bidan. Padahal anaknya sehat lho, nggak bermasalah. Rumahnya kan di pedalaman gitu tuh, kalo mau kerja dia harus ngelewatin jalan yang rusaknya bukan cuma parah tapi amat sangat parah sekali. Kalo kata suamiku, jalan itu kaya' kali krasak. Beruntung aja dia nggak brojol di jalan. 

Kalo aku sih tetep pengen normal, tetep semangat buat lahiran normal apapun resikonya. Yah..semoga nggak ada hal yang mengkhawatirkan yang bisa menghalangi niatku. Selama ini yang aku takutkan ya cuma pinggulku. Aku kan kecil imut-imut gitu. Kalo bayiku besar, cukup nggak ya pinggulku? Tapi kata mama, aku harus tetep positip thinking, banyak-banyak berdoa karna nggak ada yang mustahil buat Tuhan.

Semangat ya dek! Kita lalui 4 bulan yang katanya bakalan lebih berat ini sama-sama. Nggak akan lebih mudah sih, tapi ayah dan bunda bakalan terus berjuang biar kamu sehat dan kuat bertahan di dalam. Tendang-tendang aja bunda, nggak apa-apa kok. Semakin banyak tendangan kamu, semakin besar semangat bunda buat mempertahankan kamu.

Love you, dear.. :)


Thursday, October 27, 2011

Dampak MU Pada Suami Saya

Saya mau bercerita sedikit tentang suami kebanggaan saya. Dia itu ngefans sekali sama Manchester United. Hampir setiap pertandingan MU dia tonton, kecuali jika bertepatan dengan jam kerjanya. Tapi seingat saya, itu jarang sekali terjadi. Saking ngefansnya sama MU, dia selalu memakai team ini saat bermain PES 2011. Bahkan saat kami berlibur ke rumah om di Pamulang beberapa waktu lalu, dia tetap menyempatkan diri melihat team jagoannya berlaga. Dan kebetulan saat itu, om saya juga mengidolakan MU. Rumah itu mendadak jadi seperti stadion sepak bola, ramai sekali padahal cuma teriakan dua orang.

Setiap kali MU berlaga, saya hanya bengong. Sesekali mengimbangi teriakan heboh suami saya. Tapi selalu saya coba untuk ikut menonton Setan Merah beraksi. Saya hanya ingin tahu, apa sih yang suami saya sukai dari olahraga macam ini. Buat saya olahraga ini agak konyol. Satu bola diperebutkan oleh 22 pria tampan. Kenapa mereka tidak jadi artis saja, tidak menguras tenaga bukan? Hehe..

Kembali ke suami saya. Insiden mengharukan pun terjadi. Tanggal 23 Oktober kemarin Manchester United berlaga melawan Manchester City. Demi pertandingan ini, saya mengcancel kunjungan (ceileee..) saya ke rumah teman suami saya. Waktu itu pertandingannya kalau tidak salah pukul 19.30 di MNC TV. Suami saya sudah bersiap di depan TV sejak pukul 18.00. Sepertinya dia excited sekali. Dan disaat seperti ini, saya harus tetap menjaga mood-nya. Kalau saya ingin mengganti saluran TV, saya harus minta ijin terlebih dahulu.

Pertandingan pun dimulai. Suami saya pun memulai aksi melototin TV. Jangan pernah mengajaknya bicara saat dia sedang melakukan aksi binalnya ini, karena hasilnya akan sia-sia saja. Dari awal pertandingan sudah terlihat raut ketidakpuasan di wajah suami saya. Benar saja, gol pertama pun dicetak Manchester City, diikuti dengan gol-gol cantik lainnya. Suami saya memulai aksi keduanya saat jagoannya kalah, yaitu dengan mengomentari pemainnya satu persatu. Tidak ada yang luput dari komentar pedasnya. Saya hanya bengong karena saya bingung harus menjawab apa. Hahaha..

Mungkin karena dia tidak sanggup melihat jagoannya kalah, dia mengajak saya untuk tidur. Besoknya dia tahu bahwa jagoannya kalah 6-1 dari Manchester City. Dan sebagai dampak dari kekecewaannya, dia mengubah nama teamnya di game PES 2011 dari Manchester United menjadi SV Werden Bremen. Sungguh kekecewaan yang luar biasa! Ahahahaha..

Sayang, besok lagi kalau ada pertandingan sepak bola nggak usah nonton yah. Mending kita nonton OVJ atau Comedy Project aja :P


Saturday, October 22, 2011

Saya Rindu Mama

Saya selalu merindukan mama saya. Caranya berjalan, caranya tidur, caranya makan, semua seperti mengendap di otak saya. Saya hafal semua tentang mama saya. Bau parfumnya pun kadang berkelebat di hidung saya.




Saya membutuhkan mama saya. Saya ingin selalu berada di dekatnya, membahagiakannya, menemaninya kemanapun dia pergi, dan mentraktir empal gepuk favoritnya. Saya sungguh-sungguh merindukannya. Hampir tiap malam saya berharap mama saya ada di sebelah saya, menemani tidur saya, bercerita tentang tetangga-tetangga yang aneh, dan tertawa pelan-pelan supaya papa saya tidak tahu kalau dia sedang jadi bahan lelucon kami. Bahkan saya merindukan ceramah akbar ala mama saya ketika saya pulang larut malam atau ketika kata-kata yang tidak sopan keluar dari mulut saya. Saya ingin selalu menjaga mama, mengusap air matanya saat adik saya melukai hatinya, mengoles punggungnya dengan minyak ponari saat angin yang tidak sopan masuk ke tubuh mama, menunggu mama pulang dari arisan, mengantar mama belanja ke Pasar Beringharjo, dan mengajak mama ke Pantai Parang Tritis menikmati sunset dan bermain air sampai lupa waktu.

Mama sangat kuat. Tak ada yang bisa mematahkan semangatnya, tak ada yang bisa menumbangkan keberaniannya, tak ada yang bisa menyurutkan langkahnya. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, dia masih lincah bergerak kesana kemari. Menjadi pengurus RW, mengambilkan pensiun eyang lalu mengantarnya ke kaki gunung merapi, tidak pernah absen datang doa malam, dan tidak pernah bilang tidak jika ada temannya yang membutuhkan bantuannya sekalipun rumah temannya itu berkilo-kilo jauhnya.

Mama sangat pemaaf. Tidak pernah menyimpan kesalahan orang lain, mendoakan orang-orang yang sudah menyakiti hatinya, dan selalu rajin memaksa saya untuk bisa memaafkan orang-orang yang sudah menyakiti saya. Mama sangat tabah menghadapi apapun. Dia tidak pernah mengeluh sekalipun dia sudah tidak mampu berdiri. 

Saya ingin seperti mama, kuat, tangguh, tabah, pemaaf, sabar, dan selalu dirindukan kehadirannya oleh anaknya. Saya ingin seperti mama, tidak ada kata menyerah menghadapi apapun. Saya ingin seperti mama, mengandalkan Tuhan sepenuhnya dalam kehidupannya. Saya ingin seperti mama, kadang menjadi guru, kadang menjadi sahabat yang baik, dan kadang menjadi pelawak. Hehe..

Kelak ketika saya punya anak, saya ingin anak saya seperti mama. Akan saya ceritakan semua kebaikan eyangnya, dan betapa kagumnya saya padanya.

Saya merindukan mama.. *hug


your girl,

Aku Terpaksa Menikahinya


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. 

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


DIKUTIP DARI :http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Monday, October 17, 2011

5 Minggu 3 Hari

Saat ini usia kandungan saya sudah 5 minggu 4 hari. Banyak sekali kejadian-kejadian menarik selama 5 minggu itu. Awalnya saya tidak menyadari keberadaan kandungan saya karena memang tidak ada tanda-tanda khusus. Saya menyadarinya ketika saya sudah terlambat haid 5 hari. padahal dalam sebulan kemarin saya banyak melakukan aktivitas fisik yang berat. Saya naik wahana-wahana yang menggoncang perut saya di Ancol, saya naik motor kemana-mana dengan suami saya yang notabene suka sekali kebut-kebutan, dan yang terakhir saya terpental di lantai dengan cantiknya. Tapi semuanya muzizat. Saya dan janin saya sehat.

Saya akan bercerita sedikit tentang tanda-tanda kehamilan saya. Awalnya perut saya rasanya seperti akan mens. Kram, keras, dan agak sakit. Payudara saya (maaf) juga terasa sangat keras dan sakit. Saya pikir karena hentakan di lantai yang sangat keras membuat mens saya telat. Tapi setelah saya tunggu selama 5 hari, mens saya tidak juga datang. Say membeli testpack dengan merk yang paling bagus, lalu saya tes pagi-pagi. Hasilnya sungguh membuat mata saya seperti mau loncat keluar.

Tanda-tanda lain yang mengikuti awal kehamilan saya adalah jerawat dimana-mana, gusi agak sedikit bermasalah, lemas, dan ngantuk. Puji Tuhan sampai saat ini saya belum ngidam, mual, dan muntah. Kadang-kadang perut bagian bawah juga agak kram. Tapi apapun yang terjadi di keesokan hari, membuat saya excited. Saya tidak sabar menunggu gejala-gejala lain yang akan dialami oleh para wanita hamil. Yang saya minta, saya diberi kekuatan, kesabaran, dan kemampuan meredam emosi. Saya ingin mempunyai anak yang manis, tidak mudah marah, sabar, dan pemaaf. 

Oya, kalau soal makanan, tidak ada kata ngirit lagi. Saya beli semua jenis buah, kecuali durian, salak, dan nanas. Saya makan semua jenis sayur terutama brokoli, kembang kol, bayam, kentang, dan wortel. Saya juga masak semua jenis kacang-kacangan yang katanya mengandung banyak nutrisi. Saya ingin menjauhkan janin saya dari obat-obatan, maka dari itu saya masukkan semua makanan yang alami (yang walaupun saya tidak suka) ke dalam mulut saya. Semua demi janin yang ada di dalam perut saya. Saya juga menghindari makanan yang belum matang atau setengah matang, junkfood, dan makanan instan. Padahal itu adalah makanan-makanan yang sangat saya sukai. Pokoknya demi bayi yang sehat, lincah, dan cerdas, saya kalahkan ego saya. Saya juga rajin minum air putih (minimal 8 gelas sehari), susu (2 kali sehari), jus buah dan jus sayur setiap hari. Mumpung saya belum merasakan mual, dan semoga saja tidak merasakannya.

Kehamilan pertama saya ini membuat saya sedikit agak tegang dan khawatir. Apalagi saya jauh dari mama. Saya hanya mengandalkan buku-buku dan informasi dari teman-teman saya yang sedang hamil juga. Tentu saja saya andalkan Tuhan, itu yang paling penting. Doa saya, saya selalu sehat, tidak menyusahkan suami, tetap mandiri, dan semakin bertanggung jawab dengan semua hal yang sudah Tuhan kasih dalam hidup saya. 


"A baby is something you carry inside you for nine months, in your arms for three years, and in your heart till the day you die"

Monday, October 10, 2011

Papaku Anugerah Tuhan

Pernahkah kalian berkhayal seandainya saja ayah atau ibu kalian bisa diganti dengan pria atau wanita lain? Tadi malam sebelum tidur saya sempat ngoceh di samping suami saya, andai ayah saya bisa ditukar dengan yang lain. Yang hasilnya adalah saya ngoceh sendiri seperti orang gila karena ternyata suami saya tidur pulas. Padahal saya mengharapkan tanggapan positif darinya.

Begini. Saya ini mewarisi ciri-ciri fisik yang hampir sama dengan papa saya, dan tidak munafik, kadang saya tidak menyukainya. Beberapa kali saya sempat berharap papa saya bisa ditukar dengan orang-orang yang pernah dekat dengan mama saya atau yang pernah saya lihat di sekeliling saya.

Contohnya :

  1. Pak Wahono (pacar pertama mama, sekarang majelis di salah satu GKJ di Jogja) ~ Kalau mama menikah dengannya, badan saya pasti tinggi dan seksi. Tapi hidung saya besar dan kulit saya hitam!
  2. Om Hendri (pacar kedua mama, tetangga eyang saya di Baciro) ~ Kalau yang ini, badan saya pasti tinggi dan putih. Tapi pasti gemuk dan saya suka ke dukun, mewarisi sifat ayah.
  3. Om Gaib (pacar ketiga mama, orang wonosari) ~ Kalau sama yang ini, badan saya pasti tinggi, putih, cantik dan kaya. Tapi sekarang status saya pasti anak yatim karena ditinggal ayah saya kabur ke Kalimantan gara-gara punya hutang ratusan juta.
  4. Om Yuyub (teman dekat mama, rumahnya dekat SMA saya) ~ Wah, tidak diragukan lagi. Saya pasti jadi perempuan yang sangan cantik, tinggi, dan kaya raya karena ayah saya adalah bendahara di kantor bupati Wonosari. Tapi status saya saat ini sudah pasti anak yatim. Kan ayah saya meninggal karena kanker buah zakar.
  5. Om Win (pacar keempat mama, orang Bandung) ~ Kalau mama menikah sama Om Win, saya jadi neng geulis, seksi, dan cantik. Tapi lagi-lagi saya akan jadi anak yatim karena ayah saya ini lebih memilih untuk menceraikan mama saya dan menikah dengan pelacur yang sudah lama diselingkuhi olehnya!
Dan masih banyak pria-pria yang saya bayangkan menjadi ayah saya. Tentu saja agar saya menjadi lebih baik dalam segala hal. Tapi akhirnya selalu saja mengecewakan. Tidak ada yang seperti papa saya.

Setelah saya pikir-pikir lagi, saya ini jauh lebih beruntung dari pada anak pria-pria diatas. Tuhan memberi saya seorang ayah yang tidak suka ke dukun, tidak suka selingkuh, tidak berpenyakit aneh, dan tidak punya hutang. 

"The greatest gift I ever had, came from God. I call him DAD"


Your girl,

Sunday, October 9, 2011

Come.. Come Twenty Five

Bulan depan, kira-kira satu setengah bulan lagi, suami saya berulang tahun. Ini adalah ulang tahun pertamanya yang akan dia rayakan bersama isteri (saya tentunya). Biasanya kan kami merayakannya sendiri-sendiri karena terpisah jarak. Saya sangat excited menunggu tanggal tersebut. Banyak sekali rencana-rencana yang sudah saya buat untuk merayakan ulang tahunnya yang menurut saya sangat spesial ini. Oya, bulan depan itu umur suami saya genap seperempat abad, makanya spesial sekali hehe.. Saking banyaknya rencana kejutan untuknya, saya jadi bingung rencana mana yang harus saya jalankan. Saya ingin semuanya serba fantastis, serba romantis, dan serba perfeksionis. Saya ingin ulang tahun pertamanya dengan saya ini terkenang selalu di kepalanya. Maklum, kami ini pengantin baru! Hihi..

*Rencana pertama : saya ingin memesan tempat di sebuah restoran yang romantis dengan iringan musik di dalamnya. Kemudian pelayan akan datang ke meja kami dan memberikan kado yang sudah saya siapkan plus kue ulang tahun yang tentu saja bukan buatan saya, karena saya sama sekali tidak bisa membuat kue tart. Hahaha..

*Rencana kedua : saya akan memasakkan makanan-makanan favoritnya yang tentu saja akan memakan banyak waktu dan resep. Secara saya adalah wanita yang baru saja belajar masak, pasti akan ribet sekali. Tapi tidak masalah sih, apapun akan saya lakukan untuk membahagiakan suami saya tercinta. Wuuuuusss..

*Rencana ketiga : saya ingin memberikan kejutan yang perannya bukan hanya saya saja tapi juga teman-teman dekatnya. Saya akan mengambil nomer-nomer HP mereka dari phone book suami saya, lalu saya SMS satu persatu. Tentu saja tetap ada acara makan-makan di dalamnya.

Sementara ini hanya ada tiga rencana yang ada di otak saya yang harus segera saya putuskan. Semuanya terkendala pada waktu. Semoga saja suami saya pada hari H-nya bekerja di shift 1, yaitu antara jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Atau pada shift 3, yaitu antara jam 10 malam sampai jam 10 pagi. Dan itu berarti saya harus bangun jam 3 pagi untuk mulai memasak.

Masalah rencana sudah di depan mata. Satu hal lagi yang saya bingungkan. Kira-kira kado apa yang harus saya berikan. Beberapa orang memberi saran supaya saya memberikan kado yang benar-benar dia suka dan menjadi hobinya. Tapi hobi suami saya itu bermain game sepakbola dan mengotak-atik motornya. Tahun-tahun kemarin saya memberinya jaket dan sepatu fantovel. Mungkin tahun ini saya akan memberinya bunga, kue tart, dan beberapa masakan kesukaannya.

Tapi apapun kadonya, suami saya pasti suka. Dia bukan tipe orang yang suka menyepelekan pemberian orang lain. Apalagi saya memberikan dengan ketulusan dan cinta. Hahaha.. Doakan saya yaaa :)

"When I tell you I love you, I don't say it out of habit or to make conversation. I say it to remind you that you are the best thing that ever happened to me"

Luv,


Thursday, October 6, 2011

I am Lucky

Saya ingin bercerita sedikit tentang keberuntungan. Dalam banyak hal saya merasa saya adalah wanita yang beruntung. Saya memiliki keluarga yang semuanya mencintai dan memperhatikan keadaan saya. Mereka sering mengirim pesan singkat atau pun telpon menanyakan tentang keadaan saya di tempat yang baru ini. Saya juga mempunyai suami yang mengasihi saya dengan tulus, yang selalu tergila-gila dengan masakan saya meskipun saya tahu masakan itu tidak enak sama sekali. Saya mempunyai teman-teman yang selalu merindukan saya, rajin bertanya kapan saya pulang ke Jogja. Dan masih banyak lagi keberuntungan-keberuntungan yang saya punya, yang seolah tidak pernah lepas dari hidup saya. Dan saya WAJIB BERSYUKUR atasnya.

Sekarang saya akan bercerita tentang sebuah keluarga yang sudah kami anggap saudara kami sendiri karena pengabdiannya selama keluarga kami tinggal di Lampung. Bulan Juli kemarin adalah perjalanan perdana mereka keluar dari tanah Sumatera, sekaligus pijakan kaki pertama mereka di tanah Jawa. Saya sangat miris ketika mengetahuinya. Sesampainya di Jogja saya segera mengajak mereka berkeliling kota Jogja.


Pertama saya ajak mereka mengunjungi Benteng Vredeburg, benteng bersejarah peninggalan Belanda di pusat kota Jogja. Mereka sangat terkagum-kagum dan sempat tidak mau diajak pulang! Mereka terpesona dengan diorama, dengan pemandangannya, dengan bermacam-macam buah tangan yang dijual di depan gedung., pokoknya mereka terpesona dengan segala hal. Saya ajak juga mengunjungi Mirota Batik dan pasar Beringharjo, naik andong, dan berakhir dengan makan siang di McDonals. Lucunya, mereka sama sekali belum pernah makan Burger! :D

Hari kedua Borobudur adalah tujuan selanjutnya. Kami kesana menggunakan mobil om. Mereka ingin sekali melihat candi karena mereka memang belum pernah melihatnya. Hihihi.. 

Mereka berkata kepada saya bahwa mereka sangat tidak beruntung karena hanya tinggal di sebuah desa terpencil yang dikelilingi pohon cokelat dan pohon kelapa sawit, yang jika masuk ke desa itu harus disertai rasa was-was karena banyak kejadian pembunuhan. Sedangkan saya tinggal di sebuah kota besar yang mudah aksesnya jika ingin ngemol atau sekedar rekreasi. Tapi menurut saya mereka jauh lebih beruntung dari saya. Mereka tinggal di daerah yang tidak berpolusi, yang tenang jauh dari keramaian. Mereka mempunyai binatang peliharaan sapi yang sangat mahal harganya. Mereka punya tanah perkebunan luas hampir mengelilingi desa mereka. Yang artinya mereka punya banyak uang hehe..

Sebenarnya keberuntungan itu bersifat relatif. Tidak ada yang tahu batasan dari beruntung. Kadang saya merasa teman saya lebih beruntung dari pada saya karena bisa tinggal di luar negeri bersama suaminya. Atau kadang saya berfikir bahwa tetangga saya lebih beruntung karena punya mobil dan tidak perlu kepanasan kehujanan saat bepergian.

Tapi selalu saya tekankan kepada diri saya sendiri. Saya harus MENGUCAP SYUKUR atas apapun yang ada pada diri saya sekalipun bagi saya itu merupakan kesialan. Karena lagi-lagi Tuhan mengingatkan saya, semua yang Tuhan ciptakan itu baik adanya!


"Beruntung itu adalah ketika kamu bisa menjadi dirimu sendiri"

Wednesday, October 5, 2011

FOREVER!

These are my hubby's favourite picture. I took them in every place wherever we go. Just to remind me some beautiful moment we have been through. 

My Hubby and I
Thanks to Mr. Santo Arie who have taken this picture. I really love it.

My Hubby and Mommy
I took it at Kasongan when my uncle came from Jakarta. Always love this place.

My 'Crazy' Hubby
I don't know why he always do the crazy things. But I love everything he do hahaha.. Am I crazy too??

The Hardworker
This is the place where my hubby works. God bless all the things you do, beiby :*

Go Go Green
He does some exercise, too. But almost two months he did no exercise. Huh.. Lazy boy!

Javanesse Rockstar
He wore this clothes because of his sister's wedding party. It's javanesse traditional clothes.

My Hubby and Uncle's Family
This is at Kasongan, too. My Aunty is a shopping lover hahaha.. Nice to meet you, Aunty :p

Ramen Lover
Ramen is favourite Japanesse food ever after for him. We look for it at Jakarta! Very expensive, huh??

Wanna-Be
This is as an effect watching Pirates of a Carribean too much. He's Jack Sparrow wanna be! 

Environmentalist
I took this picture when Mt. Merapi at Yogyakarta exploded. He was sitting under the house which has buried in the ground. We're really sorry about it :(

Oh, NO!
Did I really marry one of this boy? It must be a mistake. I married a 'crazy' man! Hahaha..



I love all my hubby's poses at that pictures. Sometimes he's crazy, but he successfully made me madly insane.
Love isn't finding someone you can live with, it's finding someone you can't live without.



Bogor at the middle of the night, October 5th, 2011

Monday, October 3, 2011

Mr. Mathew

Dear Mr. Mathew,


*Thank you for being such a great husband to your lovely wife. I love what pride you take in helping me clean the house and lift clothes from clothelines. I love how you will sleep beside me and talk about your childhood at bedtime. I love the way you laugh at your story. I feel comforted with it.
*Thank you for being so confident in yourself. I love how you can proudly proclaim, "You should be proud because you have a handsome husband like me". I fell more secure if i go everywhere with you. You know everything that I don't know. 

*Thank you for helping me make breakfast today. You kept asking me, "Is there anything else i can do?", which filled me with love to see how much you enjoyed helping out. You take such pride in cooking. By the way, I love your fried rice. It's very delicious. Even i can't make a delicious fried rice as it.

*Thank you for snuggling with me during our "scary movies night". I so enjoy your cuddle sessions you have with me. I especially love when we can snuggle together at bedtime. Sometimes I wake up several hours later with you tucked right against my body = LOVE IT. You also give the greatest morning hugs and tell how well you sleep.

*Thank you for always accompanying me to the market or every place I go. You will never let me go alone even it's just a near place. You have many reasons for that bans. I know it's because you're worried about my salvation. I never felt objections, honey.

*Thank you for your kindness with people around us. You almost never say NO to people who need your help, even you've just come home from work and felt tired. I imitate you but not as good as you did. I always try to do best like you do.

*Thank you for being a great helper with the laundry. I'm very greatful because you aren't ashamed to wash your very dirty wearpak. It's very heavy when wet, and I was not able to wash it. I love the way you understand my condition.

*Thank you for all affection greetings via sms. You always give the emoticon icons and always protest if i forget to give icons on my reply. I know you're not a romantic guy, so you show your love with another different way. You also can't make the sweet words even I force you. I love how honest you are with your feeling.

*Thank you for your Faith. I love to see you praying and reading the Bible every morning. I love to see how easy for you to believe in the goodness of God and that Jesus Christ atoned for our sins. I really miss the time when going to the church with you. Yesterday was the World Communion Day and we couldn't join it because you worked. I saw on your face, you were really sorry for that. No problem, honey, we can join it another time :)

*Thank you for your good heart. Several days ago when I was sick, you washed all the dishes, cleaned the gas stove and mop the floor. Then you went to the bedroom, kissed me and wiped my forehead. I love how sincerity you are to me.

*More than anything else, thank you for loving me unconditionally, Mr. Mathew, even when I probably don't always deserve it. I feel so blessed to have you continually willing to forgive me of my wrongdoings and accept my weaknesses. I'm so glad that you were chosen to come to my life and I feel blessed to be able to be your wife. You know just when to boost up my confidence by telling me how pretty my dress are, or how nice I did my makeup, or thanking me for making you a cup of tea. You also allow me to stumble and still look at me like i'm the smartest person in the world.


xoxo,
Your Wife

Sunday, September 25, 2011

Untuk Teratai yang Masih Disimpan Di Surga

Sore tadi saya menonton pentas tari balet di sebuah stasiun televisi swasta. Para penari cilik itu tampak lincah menari berlenggak-lenggok di atas panggung. Pemeran utamanya mengenakan kostum little bird, mengenakan baju balet yang lucu dengan bulu-bulu warna hijau.

Namun ada satu hal yang saya catat dengan huruf tebal saat pentas itu dimulai. Sebelum anak-anak lincah dengan baju burung itu muncul, terlebih dahulu muncul di awal dua orang anak yang dengan kostum warna-warni di bagian bawahnya dan memegang setangkai bunga cantik yang dipegang dengan kedua tangan. Mereka yang duduk di bangku penonton dan saya yang duduk memandangi televisi tampaknya sepakat, mengerti. Oooh, adik-adik itu yang kebagian peran sebagai bunga. Memang sepanjang pentas, saat burung-burung kecil itu menari lincah, berputar dan menggerakkan sayap kecilnya, dua tangkai bunga yang berdiri di depan tersebut hanya menggoyangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri. 

Saat saya sedang asyik memperhatikan si kembang goyang, teman saya yang juga sedang menonton program tersebut, spontan mengirim sms kepada saya. "Kasian ya bu itu yang dua cuma goyang-goyangin tangannya." "Ya tapi kalo nggak ada yang jadi bunga nggak keliatan kaya taman, Jeng, pentasnya." Saya membalas tak kalah spontannya. "Iya sih." Teman saya menyetujuinya.

Ya ya, peran kecil, peran pendukung, terkadang lantas berubah peran menjadi peran yang dikasihani karena dianggap tak ada dan tak penting. Coba sekarang dibalik, tanpa peran kecil itu, tanpa kembang goyang itu, apa mungkin pementasan itu sebaik dan sesukses itu pula. Apa burung-burung kecil berkostum bulu itu akan terlihat cukup cantik tanpa dua tangkai bunga yang "hanya" bergoyang ke kanan dan ke kiri. Peran sekecil apapun, tentu ada untuk memberi arti, asalkan kita mau menyadari.

Nanti, suatu saat, kalau teratai kecil saya pentas dan "hanya" kebagian peran jadi bunga yang bergoyang ditiup angin, dia akan melihat ibunya menjadi orang yang bertepuk tangan paling keras di barisan penonton. Akan saya katakan padanya "Peran kecil bukan berarti peran tanpa arti. Dia memberi nafas dalam pertunjukan, dia melengkapi, dia menyempurnakan. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani setiap peran yang diberikan dengan sebaik mungkin. Dan tentu saja dengan cinta. Bukan cuma di panggung pementasan, tapi juga di panggung kehidupan.

Bagi saya tentu Tuhan tak mungkin lupa menyematkan alasan atas kehadiran kita di dunia, dan sama sekali kita tak punya hak untuk mengecilkan atau membesarkan arti sebuah peran dengan mata yang tentu melihat dengan segala keterbatasan. Catatan ini saya tuliskan agar nanti tak lupa saya sampaikan.

Peluk dan Cium Ibu untuk Teratai yang Masih Disimpan Di Surga,



Bogor, 25 September 2011