Saya selalu merindukan mama saya. Caranya berjalan, caranya tidur, caranya makan, semua seperti mengendap di otak saya. Saya hafal semua tentang mama saya. Bau parfumnya pun kadang berkelebat di hidung saya.
Saya membutuhkan mama saya. Saya ingin selalu berada di dekatnya, membahagiakannya, menemaninya kemanapun dia pergi, dan mentraktir empal gepuk favoritnya. Saya sungguh-sungguh merindukannya. Hampir tiap malam saya berharap mama saya ada di sebelah saya, menemani tidur saya, bercerita tentang tetangga-tetangga yang aneh, dan tertawa pelan-pelan supaya papa saya tidak tahu kalau dia sedang jadi bahan lelucon kami. Bahkan saya merindukan ceramah akbar ala mama saya ketika saya pulang larut malam atau ketika kata-kata yang tidak sopan keluar dari mulut saya. Saya ingin selalu menjaga mama, mengusap air matanya saat adik saya melukai hatinya, mengoles punggungnya dengan minyak ponari saat angin yang tidak sopan masuk ke tubuh mama, menunggu mama pulang dari arisan, mengantar mama belanja ke Pasar Beringharjo, dan mengajak mama ke Pantai Parang Tritis menikmati sunset dan bermain air sampai lupa waktu.
Mama sangat kuat. Tak ada yang bisa mematahkan semangatnya, tak ada yang bisa menumbangkan keberaniannya, tak ada yang bisa menyurutkan langkahnya. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, dia masih lincah bergerak kesana kemari. Menjadi pengurus RW, mengambilkan pensiun eyang lalu mengantarnya ke kaki gunung merapi, tidak pernah absen datang doa malam, dan tidak pernah bilang tidak jika ada temannya yang membutuhkan bantuannya sekalipun rumah temannya itu berkilo-kilo jauhnya.
Mama sangat pemaaf. Tidak pernah menyimpan kesalahan orang lain, mendoakan orang-orang yang sudah menyakiti hatinya, dan selalu rajin memaksa saya untuk bisa memaafkan orang-orang yang sudah menyakiti saya. Mama sangat tabah menghadapi apapun. Dia tidak pernah mengeluh sekalipun dia sudah tidak mampu berdiri.
Saya ingin seperti mama, kuat, tangguh, tabah, pemaaf, sabar, dan selalu dirindukan kehadirannya oleh anaknya. Saya ingin seperti mama, tidak ada kata menyerah menghadapi apapun. Saya ingin seperti mama, mengandalkan Tuhan sepenuhnya dalam kehidupannya. Saya ingin seperti mama, kadang menjadi guru, kadang menjadi sahabat yang baik, dan kadang menjadi pelawak. Hehe..
Kelak ketika saya punya anak, saya ingin anak saya seperti mama. Akan saya ceritakan semua kebaikan eyangnya, dan betapa kagumnya saya padanya.
Saya merindukan mama.. *hug
your girl,








0 comments:
Post a Comment