Wednesday, November 14, 2012

This is Aldrick


Hai.. Haiii.. Akhirnya Suntea mengudara lagi yaa.. Banyak yang baru nih! Status baru, profesi baru dan anggota keluarga baru..


This is my lovely baby boy, Aldrick Mesakh Pradipta Andi. Hidup baru saya, kerjaan baru saya, harapan baru saya, pokoknya semua yang baru-baru dan yang baik-baik langsung muncul begitu Aldrick lahir.


Dan ini adalah pertama kalinya aku gendong Aldrick. Pengen nangis lho..beneran! Gimana gak terharu coba? Sesuatu yang dulu ada di perutku, sekarang ada di pangkuanku. So sweeeeeett banget :)


Kalo yang ini adalah Aldrick yang sekarang. Narsis,tanggap kamera, murah senyum dan lagi heboh-hebohnya bikin rusuh. Ganteng kan?


Well.. Itu tadi anggota baru di keluarga kami. Aldrick yang bikin aku semangat. Aldrick yang bikin aku harus selalu sehat. Aldrick yang bikin aku ketawa plus nangis di waktu yang hampir bersamaan. Aldrick yang bikin semuanya well done. Terimakasih Tuhan.. Aku pastikan bahwa titipanMu akan baik-baik saja :)


Bogor, 14 November 2012

Thursday, February 16, 2012

Kehamilanku dan Teman-Temanku

Horeeeeee.. Si dedek udah 22 minggu lho! Udah mulei nendang-nendang, bangunin emaknya pagi-pagi, ngabisin jatah makan bapaknya, bikin emaknya sesak napas, pokoknya udah ngegemesin banget. Kemarin pas 19 minggu, beratnya 500 gr! Berarti nggak sia-sia kan usaha emaknya ngelawan morning sickness yang menyebalkan? 

Mmm.. Untungnya di kehamilan yang pertama, aku nggak ngalami apa yang banyak dialami temen-temenku yang sekarang juga lagi pada hamil. Ada yang masih nggak doyan makan nasi, ada yang kulitnya gatal-gatal,ada yang kakinya bengkak, malahan ada yang kena plasenta previa. Plasenta previa tuh letak plasentanya abnormal ato berada di atas pinggir pembukaan. Kan harusnya plasenta ada di atas, biar si dedek bisa keluar. Tapi ini plasentanya nutupin jalan keluarnya si dedek. Bahayanya kalo si ibu pendarahan. Taruhannya bisa nyawa si dedek, bisa juga nyawa si ibu. Untuk kasus kaya' gini biasanya si ibu disarankan untuk bedrest, nggak boleh kecapekan. Tapi temen yang udah aku anggap kakak itu hebat lho! Udah hampir 6 bulan masih aman-aman aja. Sebelum ketahuan kalo dia kena plasenta previa, dia masih nyuci baju sendiri, ngangkat yang berat-berat, anter jemput anak sekolah naik angkot, kemana-mana ngangkot nggak tergantung sama suami. Semoga aman sampai persalinan, walaupun harus caesar. Yah..setidaknya kan dia udah pernah ngerasain lahiran normal, jadi caesar nggak jadi masalah. Tapi tetep aja ya, yang namanya ibu pasti pengennya melakukan tugas yang mulia, melahirkan buah hatinya lewat jalannya alias normal.

Tapi ada juga temenku yang dari hamil muda sampai sekarang masih aja keukeuh pengen caesar. Alasannya karena dia parno ngeliat ibu-ibu yang lahiran normal. Maklum, dia kan bidan. Padahal anaknya sehat lho, nggak bermasalah. Rumahnya kan di pedalaman gitu tuh, kalo mau kerja dia harus ngelewatin jalan yang rusaknya bukan cuma parah tapi amat sangat parah sekali. Kalo kata suamiku, jalan itu kaya' kali krasak. Beruntung aja dia nggak brojol di jalan. 

Kalo aku sih tetep pengen normal, tetep semangat buat lahiran normal apapun resikonya. Yah..semoga nggak ada hal yang mengkhawatirkan yang bisa menghalangi niatku. Selama ini yang aku takutkan ya cuma pinggulku. Aku kan kecil imut-imut gitu. Kalo bayiku besar, cukup nggak ya pinggulku? Tapi kata mama, aku harus tetep positip thinking, banyak-banyak berdoa karna nggak ada yang mustahil buat Tuhan.

Semangat ya dek! Kita lalui 4 bulan yang katanya bakalan lebih berat ini sama-sama. Nggak akan lebih mudah sih, tapi ayah dan bunda bakalan terus berjuang biar kamu sehat dan kuat bertahan di dalam. Tendang-tendang aja bunda, nggak apa-apa kok. Semakin banyak tendangan kamu, semakin besar semangat bunda buat mempertahankan kamu.

Love you, dear.. :)


Monday, February 13, 2012

Pertanyaan di Lintasan



Ketika hidup seperti sedang berlari melintasi lintasan yang panjang, sementara terik matahari terasa membakar sampai ke punggung belakang, peluh yang jatuh menganak sungai berpadu dengan sepasang kaki yang kelelahan, sepasang mata seolah tak sabar menyambut secercah sinar yang menjadi muara tujuan. Secarik garis yang tipis namun menjadi penanda bahwa kita telah sampai. Titik sederhana dimana kita menuntaskan satu babak perjuangan, dengan perasaan meluap yang sulit dilukiskan. Bagus bila kita sekaligus menjadi pemenang, namun bila tidak, paling tidak kita tahu kapan dan dimana langkah seharusnya diberhentikan.

Kita paham benar, di sudut mana akhir petualangan ini akan kita tambatkan. Pada sebuah pijakan yang terus menerus kita ucapkan agar menjelma menjadi pasokan nafas bila nanti nyaris kehabisan. Agar langkahnya terpacu menjadi semakin lebar dan temponya berirama lebih cepat. Tak dipungkiri, terkadang kita dibuat terengah-engah memang, sesekali pula kita perlu merapikan semangat yang mulai kendur karena direndam dalam satu baskom besar air mata semalaman.

Mencuat urat di samping leher sisi kiri saat sesekali kamu berlari sambil meneriakkan isi hati, apa mungkin kita akan sampai suatu saat nanti? Alis matamu membentuk garis turun, suaramu bergetar, langkahmu melemah. Dan aku, kondisiku tak juga lebih baik. Jantungku mulai malas-malasan, berdetak sesuka-sukanya, itu pun bila mau. Lalu ini, apa kau lihat ini yang membasahiku? Tadinya kupikir hujan yang mengguyur tubuhku, tapi ternyata itu keringat yang dingin membanjiri dan terasa asin. Sementara air mataku sudah habis, kuputuskan tak akan menangis kecuali nanti setiba di garis finish.

Apa mungkin kita akan sampai? Ah, pertanyaan macam apa itu, sayang.

Meski panjang lintasan sudah Dia sebutkan, namun rasanya toh tetap akan berbeda setiap kali kita mencoba. Bergantung pada ketetapan hati, kemampuan tempa jiwa, pun kesiapan raga. Disaat lain ketika kita mencoba dengan hati goyah dan raga yang ringkih, lintasan terasa terlampau panjang, garis akhir tampak hanya semacam bualan. Lalu mungkin kita akan berhenti dipertengahan jalan, dengan kadar letih yang sekiranya sama saja dengan satu putaran lintasan.

Jangan terlalu terburu-buru melompat dan menyimpulkan. Tak ada yang mustahil bagi-Nya. Percayalah langkah kita akan lebih ringan bila kita ayunkan tanpa berpikir tentang ketidakmungkinan, jangan habiskan untuk berpikir tentang kesedihan di ujung lintasan. Bukan kuasa kita membuat ketetapan akhir perjuangan. Kamu tahu sayang, yang harus kita lakukan adalah terus berlari dan saling menguatkan.

Setiap kita kelelahan dan nyaris habis kekuatan, biarkan jemari yang berbeda ukuran dan permukaan saling bergandengan. Kaitan akan semakin kuat dengan genggaman. Tak apa, aku tak perlu menyalahkan pertanyaan. Wajar saja, terkadang sering pula muncul saat aku berkaca dan membaca benak peta perjalanan. Tak habis aku bersyukur karena waktu masih berbaik hati memberi kesempatan setiap kali kita nyaris menapaki gerbang keputusasaan. Memberi kelonggaran agar kita mencuri jeda untuk saling berpandang dan membiarkan dua pasang mata bebas bicara. Tentang satu-satunya persamaan yang kita punya dan kita sebut cinta. Tak akan pernah berhenti sampai benar-benar mati.

"Apa jadinya bila Colombus mencabut kembali sauhnya dan menggulung kembali layarnya karena sebuah pertanyaan yang sama dia ajukan pada awaknya saat ekspedisinya ke timur Asia. Mungkin sejarah dunia tak akan mencatat namanya sebagai penemu Amerika tahun 1492, kan sayang?"




Saturday, November 12, 2011

Apa Jadinya Kalau Tidak Ada Nenek?

Saya mempunyai seorang tetangga yang sangat berkesan buat saya. Umurnya sekitar 40 menjelang 50, mempunyai dua orang anak, yang nomer satu sudah menikah dan tinggal di Cikotok, dan sang adik sedang menyelesaikan pendidikan D3 kebidanan di sebuah universitas di Bogor. Kedua anaknya adalah wanita.

Kami, para tetangganya, memanggil ibu ini dengan sebutan nenek. Nama aslinya Bu Adang. Wajahnya masih belum terlalu dihiasi banyak kerut sih, tapi karena anak-anak di sekitar rumah memanggilnya nenek, kami pun yang sudah dewasa ikut-ikutan memanggil beliau nenek.

Di sebelah rumah nenek ada seorang ibu, single parent, yang mempunyai dua anak. Namanya Bu Nyai. Bu Nyai ini tinggal dengan anaknya yang nomer dua, laki-laki bernama Bakti. Bakti berusia 4 tahun. Tentu berat ya hidup sendiri tanpa suami. Bu Nyai rajin sekali. Dia buka usaha pembuatan roti kering dan roti basah. Selain itu setiap pagi dia berjualan nasi uduk di teras depan rumahnya. Masakannya enak lho!

Bu Nyai dan nenek punya hubungan keluarga. Suaminya Bu Nyai adalah keponakan dari Kakek (Pak Adang). Nenek-lah yang membantu Bu Nyai dalam segala hal, mengurus Bakti, membantu memasak makanan yang akan Bu Nyai jual setiap paginya, membantu membereskan barang-barang yang digunakan untuk berjualan di pagi hari, menemani Bu Nyai belanja ke pasar, dan masih banyak lagi bantuan-bantuan nenek untuk Bu Nyai. Tapi tidak pernah sedikit pun saya lihat kekesalan di wajahnya. Yang memancar dari wajahnya hanyalah ketulusan. Saat kami duduk bersama, tidak pernah sedikitpun ada kalimat keluhan keluar dari mulut nenek. Bahkan tidak pernah sedikit pun beliau menjelek-jelekkan orang lain.

Hal ini tidak hanya dilakukan pada Bu Nyai dan Bakti. Pada tetangganya yang lain pun beliau selalu baik, selalu tulus dalam melakukan sesuatu. Saya ini wanita yang ceroboh dan pelupa. Kadang saya lupa kalau saya punya jemuran di luar. Padahal Bogor adalah kota hujan. Hampir setiap jam 2 siang, Bogor hujan. Nenek-lah yang mengangkat jemuran saya dan melipatnya dengan rapi. Hal ini dilakukan hampir setiap kali saya mencuci. Bukannya saya mengandalkan beliau, tapi ketika hari sudah mulai mendung, saya pasti masih enak-enaknya tidur. Tahu-tahu sudah hujan deras sekali. Kadang saya merasa tidak enak pada nenek. Apa jadinya kalau tidak ada beliau? Nenek juga rajin berteriak-teriak memanggil nama saya karena seharian saya tidak keluar rumah. Kata nenek, nenek khawatir jangan-jangan saya sakit. Bahkan disaat saya hamil, beliau sering bertanya pada saya, saya mau dibuatkan makanan apa. Haduh..masih banyak deh bentuk perhatian beliau yang lainnya. 

Saya salut sama nenek. Nenek selalu bisa bersikap baik dengan semua orang, sekalipun orang itu baru saja dikenalnya. Nenek selalu bisa bersikap tulus tanpa pamrih pada semua orang yang dia tolong. Saya ingin seperti beliau, hatinya, sikapnya, perhatiannya. 

Nek, jangan kapok ya punya tetangga seperti saya yang pelupa dan ceroboh. Semoga di masa tuamu, Tuhan memberkati engkau berlimpah-limpah, melingkupi engkau dengan damai sejahtera dan sukacita, serta memberikan kesehatan dan umur panjang.

Monday, November 7, 2011

8 Minggu yang Melelahkan

Beberapa hari ini saya memang malas sekali menulis. Bukan karena sudah bosan dengan blog saya tapi gangguan perut saya yang membuat saya susah untuk duduk berlama - lama. Ini pun masih sedikit malas - malasan. Tapi karena saya melihat kondisi blog saya yang tak terurus, saya membulatkan tekad untuk menghadap letti.

Kehamilan saya menginjak 8 minggu. Mmm.. Kalau tidak salah hitung lho! Soalnya saya orang yang paling malas kalau disuruh menghitung hari. Dan ini lagi parah-parahnya. Tiap hari saya muntah dari pagi sampai malam. Ini yang membuat saya tidak enak makan sama sekali. Tapi tetap saya paksa. Saya tidak boleh egois. Sekarang di dalam tubuh saya ada nyawa yang harus saya pertanggungjawabkan jika terjadi sesuatu. Maka dari itu, mual atau tidak, saya tetap harus makan. Kata mama, makannya nggak perlu banyak, tapi usahakan sesering mungkin. Saya juga jadi rajin makan buah dan sayur. Mulai dari mangga muda, jambu asem, sampai pepaya yang super manis. Bahkan yang awalnya saya kurang suka sayuran, sekarang saya lahap semua tanpa pilih-pilih. Contohnya wortel. Entah kenapa saya tidak suka dengan makanan kelinci ini. Tapi tetap saya makan supaya penglihatan anak saya bagus, tidak perlu memakai kacamata seperti ayah ibunya hehe..

Yang membuat saya kesal adalah saat mual saya sedang parah-parahnya, ada saja makanan enak di depan saya. Contohnya kejadian kemarin. Suami saya dan teman-temannya sengaja urunan uang untuk membeli seekor kambing dalam rangka ikut menyemarakkan Idul Adha. Kambing itu dipotong sendiri di rumah Mas Iskak, salah satu senior suami saya. Daging kambing itu ada yang di sate, ada juga yang di tongseng. Begitu saya sampai di rumah Mas Iskak, bau aroma sate kambing langsung menusuk hidung saya. Mulut saya sudah menganga seperti lele kehabisan udara, tapi perut saya berteriak NO NO NO NO NOOOO. Alhasil saya cuma makan sate kira-kira empat tusuk. Haduh..nggak berasa sama sekali kan? Tapi ya sudahlah mau apa lagi. Mungkin baby saya alergi daging.

Oya, tips buat para ibu hamil yang sedang mual-mualnya. Recommended banget nih! Pagi-pagi sebelum kita mengangkat kepala kita dari bantal, makan biskuit dulu. Biar mualnya berkurang. Terbukti lho! 
Selamat menikmati berkat Tuhan yaaa.. :)

Friday, October 28, 2011

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Melihat perkembangan anak muda jaman sekarang memang agak ngelus dada. Masa' ditanya isi Sumpah Pemuda pada nggak tau sih? Kebangetan banget kan. Apa di sekolahnya nggak ada pelajaran Sejarah? Atau siswanya yang selalu tidur saat pelajaran Sejarah? Saya juga tidak membenarkan diri saya sendiri. Dulu saya juga benci pelajaran Sejarah, karena saya diharuskan menghafal dan saya tidak punya daya ingat yang bagus dalam menghafal. Tapi setidaknya ada satu dua hal yang masih nyantol di otak saya, termasuk isi dari Sumpah Pemuda. 
Kemarin saya melihat sebuah acara TV yang mengupas tentang Sumpah Pemuda dan pemuda jaman sekarang. Yang tentu saja bagi saya percuma saja. Toh pemuda jaman sekarang merasa tidak punya korelasi antara Sumpah Pemuda dan diri mereka. Bintang tamu pada acara tersebut berkata bahwa cinta Indonesia tidak perlu ditunjukkan dengan atribut-atribut yang kita gunakan. Cinta Indonesia ditunjukkan dengan apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia. Dari situ saya berpikir, saya belum menunjukkan cinta saya pada bumi yang saya pijak sejak 23 tahun yang lalu. Bahkan kadang saya cenderung malu dengan negara saya sendiri, dengan ulah para pemimpin bangsa yang katanya membawa amanah rakyat. Seharusnya cinta Indonesia bisa saya tanamkan pada diri saya tanpa melihat perbuatan orang lain. 
Yang membuat saya tambah miris adalah hari Sumpah Pemuda diwarnai dengan aksi demonstrasi mahasiswa yang menurut saya tidak masuk akal. Mereka menuntut kepemimpinan SBY-Boediono yang menurut mereka gagal total. Kalau mereka jadi Presiden, apakah mereka bisa melakukan perubahan-perubahan yang lebih baik? Saya tidak yakin! Seandainya saya punya perusahaan, akan saya blacklist wajah-wajah demonstran itu, supaya mereka tidak bisa masuk ke perusahaan saya. Mereka kan cuma bisa protes.
Tapi saya juga tidak membenarkan pak Presiden. Saya tidak peduli dengan reshuffle kabinet. Saya tidak peduli dengan para koruptor yang semakin meraja lela. Yang seharusnya pak Presiden pikirkan adalah mereka yang masih sulit sekolah karena masalah kemiskinan. Adalah mereka yang tinggal di perbatasan Indonesia - Malaysia, yang hidup jauh dibawah kata miskin. Adalah mereka yang masih mengalami krisis pangan dan kelaparan padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris. 

Faktanya adalah bangsa yang pernah menjadi macan Asia Tenggara ini kehilangan taringnya!

Lalu bagaimana dengan pemudanya? Bangsa yang besar ada di tangan pemuda!

Selamat hari Sumpah Pemuda. Tuhan memberkati Indonesia :)


Thursday, October 27, 2011

Dampak MU Pada Suami Saya

Saya mau bercerita sedikit tentang suami kebanggaan saya. Dia itu ngefans sekali sama Manchester United. Hampir setiap pertandingan MU dia tonton, kecuali jika bertepatan dengan jam kerjanya. Tapi seingat saya, itu jarang sekali terjadi. Saking ngefansnya sama MU, dia selalu memakai team ini saat bermain PES 2011. Bahkan saat kami berlibur ke rumah om di Pamulang beberapa waktu lalu, dia tetap menyempatkan diri melihat team jagoannya berlaga. Dan kebetulan saat itu, om saya juga mengidolakan MU. Rumah itu mendadak jadi seperti stadion sepak bola, ramai sekali padahal cuma teriakan dua orang.

Setiap kali MU berlaga, saya hanya bengong. Sesekali mengimbangi teriakan heboh suami saya. Tapi selalu saya coba untuk ikut menonton Setan Merah beraksi. Saya hanya ingin tahu, apa sih yang suami saya sukai dari olahraga macam ini. Buat saya olahraga ini agak konyol. Satu bola diperebutkan oleh 22 pria tampan. Kenapa mereka tidak jadi artis saja, tidak menguras tenaga bukan? Hehe..

Kembali ke suami saya. Insiden mengharukan pun terjadi. Tanggal 23 Oktober kemarin Manchester United berlaga melawan Manchester City. Demi pertandingan ini, saya mengcancel kunjungan (ceileee..) saya ke rumah teman suami saya. Waktu itu pertandingannya kalau tidak salah pukul 19.30 di MNC TV. Suami saya sudah bersiap di depan TV sejak pukul 18.00. Sepertinya dia excited sekali. Dan disaat seperti ini, saya harus tetap menjaga mood-nya. Kalau saya ingin mengganti saluran TV, saya harus minta ijin terlebih dahulu.

Pertandingan pun dimulai. Suami saya pun memulai aksi melototin TV. Jangan pernah mengajaknya bicara saat dia sedang melakukan aksi binalnya ini, karena hasilnya akan sia-sia saja. Dari awal pertandingan sudah terlihat raut ketidakpuasan di wajah suami saya. Benar saja, gol pertama pun dicetak Manchester City, diikuti dengan gol-gol cantik lainnya. Suami saya memulai aksi keduanya saat jagoannya kalah, yaitu dengan mengomentari pemainnya satu persatu. Tidak ada yang luput dari komentar pedasnya. Saya hanya bengong karena saya bingung harus menjawab apa. Hahaha..

Mungkin karena dia tidak sanggup melihat jagoannya kalah, dia mengajak saya untuk tidur. Besoknya dia tahu bahwa jagoannya kalah 6-1 dari Manchester City. Dan sebagai dampak dari kekecewaannya, dia mengubah nama teamnya di game PES 2011 dari Manchester United menjadi SV Werden Bremen. Sungguh kekecewaan yang luar biasa! Ahahahaha..

Sayang, besok lagi kalau ada pertandingan sepak bola nggak usah nonton yah. Mending kita nonton OVJ atau Comedy Project aja :P