Saya ingin bercerita sedikit tentang keberuntungan. Dalam banyak hal saya merasa saya adalah wanita yang beruntung. Saya memiliki keluarga yang semuanya mencintai dan memperhatikan keadaan saya. Mereka sering mengirim pesan singkat atau pun telpon menanyakan tentang keadaan saya di tempat yang baru ini. Saya juga mempunyai suami yang mengasihi saya dengan tulus, yang selalu tergila-gila dengan masakan saya meskipun saya tahu masakan itu tidak enak sama sekali. Saya mempunyai teman-teman yang selalu merindukan saya, rajin bertanya kapan saya pulang ke Jogja. Dan masih banyak lagi keberuntungan-keberuntungan yang saya punya, yang seolah tidak pernah lepas dari hidup saya. Dan saya WAJIB BERSYUKUR atasnya.
Sekarang saya akan bercerita tentang sebuah keluarga yang sudah kami anggap saudara kami sendiri karena pengabdiannya selama keluarga kami tinggal di Lampung. Bulan Juli kemarin adalah perjalanan perdana mereka keluar dari tanah Sumatera, sekaligus pijakan kaki pertama mereka di tanah Jawa. Saya sangat miris ketika mengetahuinya. Sesampainya di Jogja saya segera mengajak mereka berkeliling kota Jogja.
Pertama saya ajak mereka mengunjungi Benteng Vredeburg, benteng bersejarah peninggalan Belanda di pusat kota Jogja. Mereka sangat terkagum-kagum dan sempat tidak mau diajak pulang! Mereka terpesona dengan diorama, dengan pemandangannya, dengan bermacam-macam buah tangan yang dijual di depan gedung., pokoknya mereka terpesona dengan segala hal. Saya ajak juga mengunjungi Mirota Batik dan pasar Beringharjo, naik andong, dan berakhir dengan makan siang di McDonals. Lucunya, mereka sama sekali belum pernah makan Burger! :D
Hari kedua Borobudur adalah tujuan selanjutnya. Kami kesana menggunakan mobil om. Mereka ingin sekali melihat candi karena mereka memang belum pernah melihatnya. Hihihi..
Mereka berkata kepada saya bahwa mereka sangat tidak beruntung karena hanya tinggal di sebuah desa terpencil yang dikelilingi pohon cokelat dan pohon kelapa sawit, yang jika masuk ke desa itu harus disertai rasa was-was karena banyak kejadian pembunuhan. Sedangkan saya tinggal di sebuah kota besar yang mudah aksesnya jika ingin ngemol atau sekedar rekreasi. Tapi menurut saya mereka jauh lebih beruntung dari saya. Mereka tinggal di daerah yang tidak berpolusi, yang tenang jauh dari keramaian. Mereka mempunyai binatang peliharaan sapi yang sangat mahal harganya. Mereka punya tanah perkebunan luas hampir mengelilingi desa mereka. Yang artinya mereka punya banyak uang hehe..
Sebenarnya keberuntungan itu bersifat relatif. Tidak ada yang tahu batasan dari beruntung. Kadang saya merasa teman saya lebih beruntung dari pada saya karena bisa tinggal di luar negeri bersama suaminya. Atau kadang saya berfikir bahwa tetangga saya lebih beruntung karena punya mobil dan tidak perlu kepanasan kehujanan saat bepergian.
Tapi selalu saya tekankan kepada diri saya sendiri. Saya harus MENGUCAP SYUKUR atas apapun yang ada pada diri saya sekalipun bagi saya itu merupakan kesialan. Karena lagi-lagi Tuhan mengingatkan saya, semua yang Tuhan ciptakan itu baik adanya!
"Beruntung itu adalah ketika kamu bisa menjadi dirimu sendiri"









0 comments:
Post a Comment