Sore tadi saya menonton pentas tari balet di sebuah stasiun televisi swasta. Para penari cilik itu tampak lincah menari berlenggak-lenggok di atas panggung. Pemeran utamanya mengenakan kostum little bird, mengenakan baju balet yang lucu dengan bulu-bulu warna hijau.
Namun ada satu hal yang saya catat dengan huruf tebal saat pentas itu dimulai. Sebelum anak-anak lincah dengan baju burung itu muncul, terlebih dahulu muncul di awal dua orang anak yang dengan kostum warna-warni di bagian bawahnya dan memegang setangkai bunga cantik yang dipegang dengan kedua tangan. Mereka yang duduk di bangku penonton dan saya yang duduk memandangi televisi tampaknya sepakat, mengerti. Oooh, adik-adik itu yang kebagian peran sebagai bunga. Memang sepanjang pentas, saat burung-burung kecil itu menari lincah, berputar dan menggerakkan sayap kecilnya, dua tangkai bunga yang berdiri di depan tersebut hanya menggoyangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri.
Saat saya sedang asyik memperhatikan si kembang goyang, teman saya yang juga sedang menonton program tersebut, spontan mengirim sms kepada saya. "Kasian ya bu itu yang dua cuma goyang-goyangin tangannya." "Ya tapi kalo nggak ada yang jadi bunga nggak keliatan kaya taman, Jeng, pentasnya." Saya membalas tak kalah spontannya. "Iya sih." Teman saya menyetujuinya.
Ya ya, peran kecil, peran pendukung, terkadang lantas berubah peran menjadi peran yang dikasihani karena dianggap tak ada dan tak penting. Coba sekarang dibalik, tanpa peran kecil itu, tanpa kembang goyang itu, apa mungkin pementasan itu sebaik dan sesukses itu pula. Apa burung-burung kecil berkostum bulu itu akan terlihat cukup cantik tanpa dua tangkai bunga yang "hanya" bergoyang ke kanan dan ke kiri. Peran sekecil apapun, tentu ada untuk memberi arti, asalkan kita mau menyadari.
Nanti, suatu saat, kalau teratai kecil saya pentas dan "hanya" kebagian peran jadi bunga yang bergoyang ditiup angin, dia akan melihat ibunya menjadi orang yang bertepuk tangan paling keras di barisan penonton. Akan saya katakan padanya "Peran kecil bukan berarti peran tanpa arti. Dia memberi nafas dalam pertunjukan, dia melengkapi, dia menyempurnakan. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani setiap peran yang diberikan dengan sebaik mungkin. Dan tentu saja dengan cinta. Bukan cuma di panggung pementasan, tapi juga di panggung kehidupan.
Bagi saya tentu Tuhan tak mungkin lupa menyematkan alasan atas kehadiran kita di dunia, dan sama sekali kita tak punya hak untuk mengecilkan atau membesarkan arti sebuah peran dengan mata yang tentu melihat dengan segala keterbatasan. Catatan ini saya tuliskan agar nanti tak lupa saya sampaikan.
Peluk dan Cium Ibu untuk Teratai yang Masih Disimpan Di Surga,
Bogor, 25 September 2011





0 comments:
Post a Comment