Rejeki itu bentuknya bisa bermacam-macam, tergantung bagaimana kita melihat dan menyikapinya, begitu pula halnya dengan ujian. Orang naik pangkat, dapat jabatan tinggi, naik gaji dibilang rejeki. Padahal bisa jadi itu adalah ujian, bila lantas menyalah-artikan kedudukan, menyalah-gunakan jabatan, memboncengi status dengan segala hal yang bermuatan kepentingan pribadi. Terkadang memang sulit melihat dengan jernih, sekedar menempatkan posisi berdiri agar tak salah perspektif, lalu mengambil sikap bijak untuk mensyukuri rejeki atau ujian. Saya pun hampir salah, ketika mendapati diri jatuh sakit di tengah tanggung jawab saya melayani dan mendampingi suami.
Sejak dua bulan kemarin, saya memang harus hijrah ke kota seribu angkot, mendampingi suami saya bekerja disini. Mulai saat itu saya disibukkan dengan acara belajar memasak yang membabi buta. Sebenarnya permasalahannya buka pada masak babi buta tersebut. Perbedaan iklim, cuaca, udara, kondisi lingkungan dan tingkat kebersihan air lah yang mungkin patut bertanggung jawab atas penyakit saya. Tubuh saya sedang loading dalam beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Sejak kepindahan saya, sudah berkali-kali saya berpenyakit. Tentu saja jatuh sakit bukan hal yang diminta siapapun orangnya di dunia. Saya harus tega melihat suami saya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya saya lakukan. "Duh Gusti, kenapa ya mesti diare? Menjijikan!" Begitu protes saya pada Tuhan.
Ya. Awalnya saya menganggap serangkaian sakit saya ini sebagai ujian. Badan tidak enak, perut melilit tidak karuan, kepala cenat-cenut, pekerjaan terbengkalai, aktivitas terganggu. Lalu saya teringat dengan salah satu teman saya yang terkena penyakit Lupus, penyakit seribu wajah. Penyakit yang dokter sekalipun kesulitan untuk mendiagnosanya. Penyakit yang obatnya tidak bisa dengan mudah kita tebus begitu saja di apotik. Penyakit yang mengharuskan mereka hidup dengan pengobatan dalam kurun waktu hitungan tahun, tidak seperti diare atau maag, penyakit yang saat ini mengganggu saya. Mereka saja kuat, mereka saja tegar. Lha kok saya yang cuma dikasih diare dan maag saja mengeluh..
Bila memang sakit saya ini adalah ujian, maka ini hanya ujian kecil yang harus saya jalani. Ada ribuan ujian yang dihadapkan pada manusia dan itu ribuan kali lebih berat dari yang saya jalani. Saya sendiri lebih suka mensyukuri penyakit ini sebagai rejeki. Karena dengan begitu, saya lebih enteng menjalaninya. Suami dan mama saya pun menjadi lebih perhatian kepada saya. Hehe..
Pada akhirnya sama saja. Dalam sebuah ujian, selalu ada yang bisa direnungi dan dipelajari, agar masing-masing menjadi pribadi yang lebih baik lagi, baik akal maupun budi. Saya percaya dalam setiap ujian, Tuhan selalu punya maksud baik.
Cheers,
Bogor, 27 September 2011






0 comments:
Post a Comment